by YNKI
Share
by YNKI
Share

Tim program YNKI-Yayasan Kehati (dari kanan ke kiri), Lilin Dwi Evelin, Zulfa Laylia Hauro, Putri Lestari, dan Dwi Anggradini Putri di ruang rapat YNKI di Pontianak, Kamis, 16 April 2026. (Foto dokumen YNKI)
Pembuka: Saat Neraka Berlapis Emas
Oleh: Lilin Dwi Evelin (Kepala Divisi Komunikasi YNKI)
Kita hidup di masa yang aneh. Di satu sisi, para pemimpin dunia berkumpul dalam konferensi iklim, menandatangani piagam hijau, dan melontarkan kata-kata indah tentang “transisi energi” dan “pembangunan berkelanjutan.” Di sisi lain, hutan Amazon terus menyusut setara dengan lapangan sepak bola setiap menit; tambang batu bara di Kalimantan mengeringkan sungai-sungai yang menjadi urat nadi masyarakat Dayak; dan di lautan, plastik telah ditemukan di dalam perut ikan paling dalam sekalipun.
Ini bukan kegagalan teknis. Ini bukan karena kita belum menemukan baterai yang cukup efisien atau panel surya yang cukup murah. Ini adalah kegagalan budaya—tepatnya, kegagalan teori ekonomi yang telah menjadi agama baru peradaban modern.
Sejak Renaisans melahirkan akal budi yang terpisah dari etika, dan sejak kolonialisme mengajarkan bahwa alam serta manusia “lain” hanyalah sumber daya, kita telah membangun sistem ekonomi yang secara struktural memerlukan eksploitasi untuk bertahan. Kapitalisme tidak pernah ramah lingkungan; ia hanya berpura-pura ketika kelestarian menguntungkan.
Artikel ini akan mengupas bagaimana teori-teori ekonomi—dari Adam Smith hingga Milton Friedman—secara diam-diam melegitimasi eksploitasi alam dan manusia, serta bagaimana status kehidupan Bumi saat ini adalah jerat dari logika-logika tersebut.
Bagian 1: Akar Teori Ekonomi yang Eksploitatif
a) Manusia sebagai Homo Economicus yang Racun
Teori ekonomi neoklasik mendefinisikan manusia sebagai homo economicus: makhluk rasional yang selalu memaksimalkan kepuasan pribadi (utilitas) dengan sumber daya yang terbatas. Definisi ini tampak netral. Namun, implikasi budayanya luar biasa:
- Alam tidak punya nilai intrinsik. Alam hanya bernilai jika memberikan utilitas bagi manusia (nilai guna). Hutan tidak berarti sebagai rumah bagi orang utan atau paru-paru dunia; hutan berarti sebagai kayu, karbon yang bisa diperdagangkan, atau objek wisata.
- Eksploitasi menjadi rasional. Jika Anda dapat mengekstrak manfaat sekarang tanpa membayar biaya penuh di masa depan (eksternalitas), maka secara rasional Anda akan melakukannya. Inilah yang disebut tragedi komunal—hanya saja tragedi itu diubah menjadi kemenangan bagi pemegang saham jangka pendek.
b) Pemisahan Ekonomi dari Ekologi
Ekonomi arus utama memperlakukan lingkungan sebagai “faktor produksi” yang dapat disubstitusi (modal alam bisa diganti modal buatan). Ini kesalahan fatal. Ekologi mengajarkan bahwa tidak ada substitusi untuk air bersih, tanah subur, atau atmosfer stabil. Namun, karena harga pasar tidak mencerminkan batas planet (planetary boundaries), maka teori ekonomi kita secara sistematis underprice terhadap segala sesuatu yang benar-benar penting bagi kehidupan.
Hasilnya? Praktik eksploitasi menjadi sah secara matematis. Perusahaan tambang melakukan analisis biaya-manfaat: biaya reklamasi lahan pasca-tambang lebih mahal daripada denda lingkungan. Maka mereka memilih membayar denda. Logika ini tidak gila. Logika ini sempurna di dalam sistem ekonomi yang kita ciptakan.
Bagian 2: Praktik Eksploitasi Alam dan Manusia yang Terkait Erat
Eksploitasi alam tidak pernah terpisah dari eksploitasi manusia. Mereka adalah dua sisi koin yang sama.
a) Ekstraktivisme: Wajah Baru Kolonialisme
Di era globalisasi, negara-negara kaya tidak lagi perlu mengirim kapal perang untuk mengambil sumber daya negara miskin. Cukup dengan membuka pasar bebas, memberi pinjaman dengan syarat liberalisasi (kondisionalitas IMF/World Bank), dan membiarkan korporasi transnasional bernegosiasi langsung dengan penguasa lokal yang korup. Model ini disebut ekstraktivisme.
Dampaknya:
- Konflik agraria di seluruh Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. Masyarakat adat digusur untuk perkebunan kelapa sawit, tambang emas, atau bendungan listrik.
- Perbudakan modern masih ada di tambang kobalt Kongo (untuk baterai ponsel kita), di kapal ikan Thailand, dan di perkebunan tembakau Kazakhstan.
b) Krisis Iklim sebagai Pengungkit Eksploitasi yang Baru
Ironisnya, respons terhadap krisis iklim saat ini juga menciptakan bentuk eksploitasi baru. Contoh nyata:
- Transisi energi “hijau” membutuhkan litium, kobalt, dan nikel dalam jumlah besar. Penambangan litium di Gurun Atacama (Chili) mengeringkan laguna air asin yang menjadi sumber mata air suku asli. Panel surya dan mobil listrik Eropa dibangun di atas air yang hilang dari petani lokal.
- Karbon offset hanyalah izin untuk tetap mencemari, dengan membayar petani dan masyarakat adat untuk “menjaga hutan”—sebuah bentuk neo-kolonialisme yang merampas hak kelola masyarakat lokal atas wilayah mereka sendiri.
c) Kesenjangan Ekonomi Global: Produk Langsung Eksploitasi
Menurut laporan Oxfam 2024, 1% terkaya di dunia menguasai hampir dua pertiga kekayaan baru yang diciptakan sejak pandemi. Sementara itu, negara-negara Selatan Global (Asia, Afrika, Amerika Latin) menanggung utang yang membengkak karena pinjaman yang digunakan untuk membangun infrastruktur ekstraktif—infrastruktur yang justru mengalirkan kekayaan mereka ke Utara Global.
Kesenjangan ini bukan kebetulan. Ini adalah program. Teori ekonomi perdagangan bebas dan keunggulan komparatif dirancang dalam kondisi awal yang timpang: koloni dulu dipaksa menjadi pemasok bahan mentah, dan kini struktur itu dikunci melalui perjanjian dagang dan paten.
Bagian 3: Status Kehidupan Bumi Saat Ini – Catatan Merah
Apa artinya semua ini bagi status bumi? Mari kita lihat fakta-fakta yang tidak bisa dibantah:
| Indikator | Status Saat Ini (2025) |
| Suhu global | +1,5°C sejak pra-industri, melampaui batas Perjanjian Paris |
| Kepunahan spesies | 1 juta spesies terancam punah (IPBES) |
| Deforestasi | Setara dengan 10 lapangan sepak bola per menit |
| Polusi plastik | 11 juta ton masuk lautan setiap tahun |
| Ketimpangan | 63% kekayaan baru dinikmati 1% terkaya |
Namun angka-angka ini dingin. Perspektif budaya membuatnya hangat dan menyakitkan. Karena di balik angka itu ada:
- Suku Asli Amazon yang tubuhnya penuh merkuri dari penambangan emas ilegal.
- Nelayan kecil di Pulau Jawa yang sekarang melaut tiga kali lebih jauh karena stok ikan habis di dekat pantai.
- Anak-anak di Pakistan yang menghirup udara beracun dari pembakaran batu bata—batu bata untuk membangun rumah mewah di Dubai.
Status bumi saat ini bukan kerusakan lingkungan belaka. Ini adalah kekerasan budaya yang tersistematisasi—sebuah peradaban yang secara kolektif memutuskan bahwa pertumbuhan dalam bentuk PDB lebih penting daripada kehidupan.
Bagian 4: Perspektif Baru – Menuju Ekonomi Kehidupan
Jika teori ekonomi saat ini adalah penyakit, maka obatnya bukan sekadar “green growth” atau “ekonomi sirkular” yang tetap dalam kerangka yang sama. Kita butuh perubahan paradigma radikal, yang telah lama diajukan oleh budaya-budaya non-Barat namun terus diabaikan:
- Buen Vivir (Sumak Kawsay) dari masyarakat Andes: kehidupan yang baik bukanlah akumulasi, melainkan harmoni antara manusia, alam, dan komunitas. Ekonomi bukan untuk tumbuh, tapi untuk memelihara.
- Ubuntu dari Afrika: “Aku ada karena kita ada.” Manusia tidak pernah terpisah dari manusia lain, termasuk generasi masa depan dan makhluk hidup lainnya.
- Sasi dari Maluku: praktik adat untuk melarang pengambilan sumber daya di musim tertentu, memberi alam waktu pulih. Ini adalah ekonomi regeneratif yang sudah dipraktikkan ribuan tahun sebelum konsep “keberlanjutan” diciptakan di Eropa.
Transformasi yang diperlukan bukanlah kebijakan teknis semata. Ini adalah konversi budaya: berhenti percaya bahwa manusia adalah raja alam yang berhak mengeksploitasi, dan mulai mempraktikkan kembali rasa kerabat dengan semua kehidupan.
Pilihan di Tengah Kepunahan
Kita mungkin generasi terakhir yang bisa mencegah bencana paling buruk, dan sekaligus generasi pertama yang merasakan dampak nyata dari batas-batas planet. Pertanyaannya bukan lagi “bagaimana memperbaiki ekonomi,” tetapi “apakah kita masih ingin mempertahankan ekonomi yang secara struktural eksploitatif?”
Status kehidupan bumi saat ini adalah waspada merah. Bukan alarm. Alarm sudah berbunyi. Yang kita dengar sekarang adalah jeritan pasien yang sedang sekarat. Obatnya pahit: menolak pertumbuhan PDB sebagai tujuan, membongkar konsentrasi kekayaan, mengembalikan hak kelola alam kepada masyarakat adat, dan yang paling berat—merelakan gaya hidup boros yang telah kita anggap sebagai “kemajuan.”
Apakah kita mampu? Perspektif budaya mengajarkan bahwa manusia bisa berubah—kita dulu pernah hidup tanpa bahan bakar fosil, tanpa plastik, tanpa kelaparan struktural. Kita bisa lagi. Tapi tidak dengan logika yang sama.
“Kita tidak akan pernah menyelamatkan bumi dengan cara berpikir yang sama yang merusaknya.” – Parafrase dari Albert Einstein, dan kini menjadi seruan dari ribuan aktivis lingkungan di Selatan Global.
Dunia sedang menunggu bukan hanya teknologi baterai baru. Dunia sedang menunggu kearifan baru yang sebenarnya sangat tua: bahwa bumi bukan warisan dari leluhur kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita. Dan untuk pertama kalinya, pinjaman itu hampir tidak bisa dikembalikan.
Redaksi:
Rubrik Perspektif Budaya mengajak pembaca untuk merefleksikan asumsi-asumsi dasar peradaban kita. Tidak ada perubahan sejati tanpa perubahan cara pandang. Mari berdiskusi.



