Share

Kepala Keuangan Program YNKI-Kehati, Dwi Anggradini Putri (kiri), didampingi tim YNKI lainnya, seperti Putri Lestari (kedua dari kiri), Zulfa Laylia Hauro (kedua dari kanan), dan Lilin Dwi Evelin (kanan) di jam istirahat siang di kantor YNKI di Pontianak, Senin, 20 April 2026. (Foto dokumen YNKI)
Ketika Alam Dipandang sebagai Sumber daya, Bukan sebagai Rumah
Oleh: Dwi Anggradini Putri (Kepala Bagian Keuangan Program YNKI-Kehati)
Pembuka: Dua Cara Memandang Sebatang Pohon
Coba bayangkan sebatang pohon Meranti di hutan Kalimantan. Dari sudut pandang ekonomi predator, pohon itu adalah “kayu” yang akan dihitung volumenya dalam meter kubik, dikalikan harga pasar per batang, lalu dikurangi biaya tebang angkut. Hasilnya: laba bersih. Pohon mati, uang masuk. Itu akhir cerita.
Namun dari sudut pandang nilai intrinsik, pohon yang sama adalah paru-paru yang menyaring karbon, tempat bersarang burung, pengatur tata air, peneduh bagi ribuan serangga dan jamur, penanda musim bagi masyarakat sekitar, serta bagian dari cerita leluhur yang ditanamkan melalui pantun dan mitos. Nilai-nilai ini tidak bisa dihitung di pasar. Ia tidak punya harga, tetapi punya martabat.
Pertentangan antara kedua pandangan ini bukanlah masalah teknis atau ilmiah semata. Ini adalah pertarungan budaya yang paling fundamental di abad ke-21. Di satu sisi, peradaban modern yang dibangun di atas fondasi Renaisans dan kapitalisme memandang alam sebagai kumpulan sumber daya (resources) yang tersedia untuk dieksploitasi demi pertumbuhan. Di sisi lain, budaya-budaya asli di Nusantara, Amazon, Afrika, dan Siberia—serta gerakan ekologi global yang terinspirasi oleh mereka—memandang alam sebagai subjek yang hidup, kerabat, bahkan guru.
Artikel ini akan mengupas secara kritis praktik ekonomi predator yang mendominasi dunia saat ini, membandingkannya dengan etika nilai intrinsik ekosistem, serta menunjukkan bagaimana perang pandangan ini menentukan nasib bumi—dan nasib kita.
Bagian 1: Memahami “Nilai Intrinsik” Ekosistem Alami
Apa sebenarnya “nilai intrinsik”? Dalam filsafat lingkungan, nilai intrinsik adalah nilai yang melekat pada sesuatu karena keberadaannya sendiri, bukan karena kegunaannya bagi manusia. Berbeda dengan nilai instrumental (hanya berharga jika bermanfaat bagi kita).
a) Alam sebagai subjek, bukan objek
Budaya-budaya tradisional di seluruh dunia—dari Suku Dayak di Kalimantan, Maori di Selandia Baru, Quechua di Andes hingga Sami di Skandinavia—sepakat pada satu prinsip: alam memiliki jiwa, memiliki hak, dan memiliki martabat yang setara dengan manusia. Sungai bukanlah “air mengalir”, ia adalah “nenek yang memberi kehidupan”. Gunung bukanlah “batuan beku”, ia adalah “tempat bersemayamnya leluhur”.
Contoh konkret:
- Di Selandia Baru, Sungai Whanganui secara resmi diakui sebagai entitas hukum dengan hak-haknya sendiri—ia dapat diwakili di pengadilan.
- Di India, sungai Ganga dan Yamuna juga pernah mendapat status serupa (meski kemudian diperdebatkan).
- Di Indonesia, masyarakat adat Kasepuhan di Gunung Halimun melarang menebang pohon tertentu karena dianggap sebagai “panyangga langit”.
Ini bukan takhayul. Ini adalah sistem pengetahuan ekologis tradisional (Traditional Ecological Knowledge) yang telah terbukti menjaga keseimbangan hutan selama ribuan tahun, jauh sebelum ilmu konservasi modern lahir.
b) Nilai intrinsik dalam filsafat barat modern
Meskipun budaya Barat dominan cenderung instrumental, beberapa filsuf telah mengajukan gagasan serupa:
- Aldo Leopold (1949): “Land Ethic” yang mengatakan bahwa manusia harus memperluas komunitas etisnya untuk mencakup tanah, air, tumbuhan, dan hewan.
- Arne Næss (1970-an): “Deep Ecology” yang menolak antroposentrisme dan mengakui kesetaraan semua makhluk hidup.
- Thomas Berry (1990-an): Bumi bukan sekadar lingkungan, ia adalah “komunitas kehidupan” yang utuh.
Namun, gagasan-gagasan ini tetap marjinal dalam kebijakan ekonomi global. Nilai intrinsik belum menjadi landasan sistem produksi dan konsumsi kita.
Bagian 2: Anatomi “Praktik Ekonomi Predator”
Jika nilai intrinsik adalah pandangan budaya yang menghormati alam, maka praktik ekonomi predator adalah lawannya. Istilah “predator” di sini bukan sekadar kiasan. Ia memiliki karakteristik yang jelas:
a) Ekstraktivisme tanpa batas
Praktik predator memandang alam sebagai tambang (mine) yang harus dikeruk habis. Karakteristiknya:
- Tingkat ekstraksi melebihi regenerasi alam. Hutan ditebang lebih cepat dari pertumbuhan pohon baru. Ikan ditangkap lebih banyak dari populasi yang bisa berkembang biak.
- Tidak ada perhitungan biaya pemulihan. Istilah “externalities” dalam ekonomi klasik adalah alasan sempurna untuk membuang limbah ke sungai atau polusi ke udara secara gratis.
b) Komodifikasi total
- Alam dipecah-pecah menjadi komoditas yang diperdagangkan: karbon menjadi kredit, air menjadi izin, hutan menjadi saham.
- Harga tidak mencerminkan nilai. Satu hektar hutan mangrove dihargai hanya berdasarkan kayu dan udang tambak, sementara fungsi penahan abrasi, tempat asuhan ikan, dan penyerap karbon diabaikan.
c) Diskon masa depan yang kejam
Ekonom predator menggunakan discount rate dalam analisis biaya-manfaat: manfaat 10 tahun ke depan dianggap kurang berharga daripada keuntungan hari ini. Akibatnya, menyelamatkan planet untuk anak cucu secara matematis “tidak rasional” karena masa depan terlalu jauh. Ini bukan hanya bodoh secara ekologis; ini adalah kegilaan etis yang dibungkus rumus matematika.
d) Kekerasan terhadap manusia yang menjaga alam
Praktik predator selalu beriringan dengan penggusuran masyarakat adat. Contoh nyata:
- Pulau Bangka: Penambangan timah untuk ponsel dan mobil listrik telah meracuni laut dan tanah. Nelayan jadi penganggur, anak-anak terpapar logam berat. Siapa yang diuntungkan? Perusahaan dan konsumen di Jepang, Korea, Eropa.
- Kalimantan: Perkebunan kelapa sawit menggusur hutan adat Dayak. Masyarakat yang selama 500 tahun menjaga hutan dengan sistem tembawang (hutan cadangan) diusir dengan bantuan aparat.
Inilah inti predator: ia tidak hanya memakan mangsanya, tetapi juga menghancurkan rumah dan membunuh penjaganya.
Bagian 3: Pertarungan Dua Nilai dalam Kebijakan Global
Konflik antara nilai intrinsik dan ekonomi predator tidak hanya terjadi di hutan atau laut terpencil. Ia terjadi di ruang-ruang kebijakan global.
a) REDD+ dan Kontroversi Karbon
Program PBB “Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation” (REDD+) membayar negara dan masyarakat untuk menjaga hutan. Secara instrumental, ini bagus: hutan tidak ditebang. Namun secara kultural, banyak kritik:
- Hutan hanya dilindungi jika memberikan jasa karbon. Jika nilai karbon turun, insentif hilang. Hutan tidak dihargai sebagai rumah bagi suku asli atau sebagai ekosistem utuh.
- Komodifikasi karbon menciptakan pasar baru di mana korporasi besar bisa membeli “offset” untuk tetap mencemari, sementara masyarakat adat hanya menjadi penjaga murah.
Dari perspektif nilai intrinsik, ini adalah penghinaan: alam direduksi menjadi satu fungsi (karbon), dan karbon itu dijual.
b) Hak Alam vs. Hak Properti
Ekuador adalah negara pertama yang memasukkan Hak Alam (Rights of Nature) dalam konstitusinya (2008). Bolivia menyusul. Dalam praktiknya, pengadilan Ekuador pernah memenangkan gugatan Sungai Vilcabamba atas pencemaran oleh proyek jalan. Namun, tekanan ekonomi dan korporasi terus menggoyahkan implementasinya.
Sebaliknya, di sebagian besar negara, hak properti atas tanah dan sumber daya alam masih menjadi yang tertinggi. Jika Anda memiliki konsesi tambang, Anda dapat menambang sampai habis—dan masyarakat adat yang menggugat seringkali kalah karena dianggap tidak memiliki “bukti kepemilikan formal” yang diakui negara.
Ini adalah pertarungan antara paradigma hukum kolonial (yang hanya mengakui kepemilikan kadaster) dan paradigma kosmologis lokal (yang mengakui hubungan spiritual dan turun-temurun).
Bagian 4: Dampak Budaya dari Dominasi Ekonomi Predator
Ketika praktik predator mendominasi, ia tidak hanya merusak ekosistem—ia juga merusak manusia sebagai makhluk budaya.
a) Alienasi dari alam
Masyarakat modern perkotaan mengalami apa yang disebut “nature deficit disorder” (Richard Louv). Anak-anak lebih mengenal karakter Pokemon daripada nama pohon di halaman sekolah. Akibatnya, mereka tidak pernah mengembangkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap alam. Bagaimana Anda bisa membela sesuatu yang tidak Anda kenal?
Alienasi ini sengaja diproduksi oleh sistem pendidikan dan media yang mengajarkan bahwa alam adalah latar belakang (background) bagi aktivitas manusia, bukan subjek dengan kehidupannya sendiri.
b) Hilangnya kearifan lokal
Sebelum tambang dan perkebunan masuk, masyarakat adat memiliki aturan ketat tentang musim panen, zona terlarang, dan ritual syukur. Sistem ini bukan sentimental; ia fungsional secara ekologis. Namun, ekonomi predator menggusur aturan itu dengan “legalitas” negara dan pasar, menganggapnya primitif dan tidak produktif.
Akibatnya, pengetahuan tentang varietas padi lokal, tentang tanda-tanda alam sebelum banjir, tentang tanaman obat hutan—semuanya lenyap dalam satu atau dua generasi. Kepunahan pengetahuan ini sama tragisnya dengan kepunahan spesies.
c) Normalisasi kekerasan
Praktik predator menormalisasi kekerasan terhadap alam. Ketika kita membuang sampah sembarangan, menggunakan plastik sekali pakai, atau membeli produk dari industri ekstraktif tanpa berpikir panjang, kita melatih diri untuk tidak berempati. Psikolog lingkungan menyebutnya sebagai “disosiasi moral” (moral disengagement). Dan pola yang sama dengan mudah dialihkan ke sesama manusia—seperti perilaku rasis, klasis, atau apatis terhadap penderitaan orang lain.
Dengan kata lain: kekejaman terhadap alam dan kekejaman terhadap manusia memiliki akar budaya yang sama.
Bagian 5: Menuju Alternatif – Ekonomi Regeneratif dan Etika Perawatan
Jika ekonomi predator adalah penyakit, apa obatnya? Bukan sekadar “ekonomi hijau” yang tetap dalam logika pertumbuhan dan komodifikasi, melainkan transformasi paradigmatik menuju apa yang bisa disebut “ekonomi regeneratif” atau “ekonomi kehidupan”.
a) Prinsip dasar ekonomi regeneratif
| Prinsip | Penjelasan |
| Kesejahteraan ekologis sebagai tujuan, bukan kendala | Alam bukan faktor produksi, ia adalah rumah tempat ekonomi berlangsung. Ekonomi harus tunduk pada batas planet. |
| Nilai intrinsik diakui dalam kebijakan | Hutan dilindungi karena ia ada, bukan hanya karena ia menyerap karbon. Sungai memiliki hak untuk mengalir bersih. |
| Masyarakat adat sebagai mitra utama | Mereka yang paling tahu cara menjaga ekosistem harus diberi hak kelola penuh, bukan hanya konsultan. |
| Ekonomi sirkular sejati | Bukan daur ulang yang tetap menghasilkan limbah, tetapi desain tanpa limbah sama sekali ( cradle-to-cradle). |
| Pengukuran kemajuan baru | Bukan GDP tetapi indikator seperti Genuine Progress Indicator (GPI) yang memperhitungkan kerusakan alam dan ketimpangan. |
b) Praktik nyata yang sudah berjalan
- Costa Rica: Berhasil membalikkan deforestasi dari 75% menjadi lebih dari 50% tutupan hutan dalam 30 tahun, dengan membayar petani untuk jasa ekosistem dan mengakui nilai intrinsik hutan.
- Sistem Hutan Nagari di Sumatera Barat: Pengelolaan hutan berbasis adat yang mengintegrasikan larangan (tambang, tebang sembarang) dengan pemanfaatan lestari.
- Gerakan Tanah untuk Kehidupan (Land for Life) di berbagai negara: Mengembalikan tanah yang rusak akibat tambang dan perkebunan kepada masyarakat lokal untuk dipulihkan secara ekologis.
c) Apa yang bisa kita lakukan sebagai individu?
Perspektif budaya tidak hanya berbicara kebijakan makro. Ia juga tentang pilihan sehari-hari yang mengubah budaya:
- Mengenal kembali alam sekitar: Belajar nama pohon, burung, dan sungai di lingkungan kita. Memberi nama pada mereka seperti memberi martabat.
- Mendukung ekonomi lokal non-ekstraktif: Membeli dari petani organik, pengrajin rotan lestari, atau koperasi nelayan kecil.
- Menolak komodifikasi berlebihan: Kurangi penggunaan produk sekali pakai, tolak “greenwashing” korporasi.
- Berpartisipasi dalam gerakan hak alam: Dukung inisiatif hukum untuk memberikan status hukum pada ekosistem.
Penutup: Perang Budaya yang Menentukan Masa Depan
Pada akhirnya, pertarungan antara nilai intrinsik ekosistem dan praktik ekonomi predator adalah perang budaya tentang apa yang kita anggap suci. Apakah yang suci itu hanya pertumbuhan PDB dan akumulasi modal? Ataukah yang suci itu adalah air yang mengalir, tanah yang subur, udara yang segar, dan hubungan timbal balik antara manusia dengan ribuan spesies lain?
Sejarah telah menunjukkan bahwa praktik predator selalu berakhir dengan keruntuhan peradaban (Maya, Easter Island, Kekaisaran Romawi). Mereka yang bertahan adalah mereka yang belajar hidup dalam batas-batas ekologis, menghormati ritme alam, dan mengakui bahwa manusia hanyalah satu utas dalam jaring kehidupan—bukan pemilik jaring.
“Ketika pohon terakhir ditebang, sungai terakhir diracuni, ikan terakhir ditangkap, barulah manusia menyadari bahwa uang tidak bisa dimakan.” – Pepatah asli suku Cree (Kanada), yang kini terbukti lebih nyata dari semua makroekonomi.
Pilihan ada di tangan kita: terus menjadi predator sampai bumi menjadi padang tandus, atau belajar menjadi penjaga (steward) yang merawat karena merawat adalah inti dari kemanusiaan sejati. Perspektif budaya mengajak kita untuk memilih yang terakhir—sebelum tidak ada lagi yang tersisa untuk dijaga.
Redaksi:
Rubrik Perspektif Budaya mengingatkan: setiap kali kita membeli, memilih, dan berbicara tentang alam, kita sedang memenangkan atau mengalahkan salah satu dari dua nilai ini. Tidak ada posisi netral dalam perang budaya. Tentukan pilihan Anda.
