Categories: News Features
Direktur YNKI Haryono

Direktur YNKI, Haryono (berdiri) memimpin pembahasan strategi pencapaian output penguatan mitigasi dan adaptasi iklim desa gambut KKR bersama awak Natural Kapital, bertempat di kantor YNKI di Pontianak, Jumat, 17 April 2026. (Foto: Mahmudi/Natural Kapital)

Program Adaptasi dan Mitigasi Iklim Desa Gambut YNKI–TFCA di Kubu Raya

Pontianak, naturalkapital.or.id. Program penguatan mitigasi dan adaptasi iklim desa gambut di Kabupaten Kubu Raya yang dijalankan oleh Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) bersama TFCA Kalimantan, tidak hanya berfokus pada kegiatan teknis restorasi. Lebih dari itu, pelaksanaannya secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip pengamanan (safeguards) sosial dan lingkungan.

Prinsip ini menjadi fondasi agar setiap intervensi proyek, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, benar-benar memberikan manfaat dan tidak menimbulkan dampak negatif, terutama bagi kelompok rentan di masyarakat.

“Pengelolaan risiko dalam proyek ini tidak hanya untuk menghindari dampak negatif, tetapi juga untuk meningkatkan manfaat bagi kelompok rentan,” ujar Haryono, Direktur YNKI, dalam diskusi penguatan strategi tim di kantor YNKI Pontianak, Jumat (17/4/2026).

Mengacu pada kerangka yang dirumuskan oleh TFCA Kalimantan, YNKI mengidentifikasi tiga risiko utama, berikut strategi mitigasinya.

1. Risiko Sosial: Memastikan Inklusivitas dan Menghormati Hak

Potensi konflik tenurial (penguasaan lahan) dan kurangnya partisipasi kelompok rentan seperti perempuan dan pemuda menjadi fokus utama.

Strategi Mitigasi YNKI:

  • Prinsip FPIC (Free, Prior, and Informed Consent): Setiap keputusan, terutama terkait tata kelola lahan, harus melalui proses persetujuan di awal tanpa paksaan (Padiatapa).
  • Pendekatan PAR (Participatory Action Research): Pemetaan partisipatif dan riset aksi yang inklusif dengan metode yang mengakomodasi gender dan kelompok adat.
  • Penguatan Kelembagaan: Meningkatkan kapasitas Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) agar memahami hak kelola dan kewajiban konservasi secara partisipatif.

2. Risiko Ekonomi: Menyediakan Alternatif Penghidupan Berkelanjutan

Ketergantungan masyarakat pada praktik yang merusak lingkungan, seperti membakar lahan atau eksploitasi kayu ilegal, seringkali disebabkan oleh belum adanya alternatif ekonomi.

Strategi Mitigasi YNKI:

  • Diversifikasi Penghidupan: Pelatihan dan pendampingan usaha berbasis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) serta agroforestri gambut.
  • Pengembangan Bisnis: Penyusunan rencana bisnis kelompok, dukungan akses pasar, dan kemitraan multipihak.
  • Membuka Akses Pendanaan: Pemetaan potensi pembiayaan iklim, seperti skema Indonesia Certified Emission Reduction (ICER) terdaftar di Sistem Registri Nasional (SRN), pendampingan menuju Program Kampung Iklim (ProKlim), atau akses pendanaan aksi iklim komunitas dari badan pengelola dana lingkungan hidup (BPDLH) 

3. Risiko Lingkungan: Mencegah Kebakaran dan Melindungi Habitat

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berulang, terutama di wilayah gambut Kubu Raya, serta perambahan kawasan hutan desa, menjadi tantangan serius.

Strategi Mitigasi YNKI:

  • Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS): Penguatan sistem deteksi dini kebakaran berbasis komunitas untuk respons yang cepat.
  • Perlindungan Spasial: Pemetaan dan perlindungan habitat spesies prioritas melalui zonasi partisipatif dalam tata guna lahan desa.
  • Transparansi Data: Pemantauan rutin dan publikasi data lingkungan melalui platform desa demi akuntabilitas dan kolaborasi.

4. Integrasi Sistem Pengaman

Haryono menegaskan bahwa semua risiko di atas dikelola dalam sebuah sistem yang terintegrasi. Proyek ini akan melakukan kajian awal risiko sosial-lingkungan, yang hasilnya disusun analisis risiko dalam dokumen Kerangka Pemantauan dan Evaluasi untuk setiap output dan outcome proyek.

Seluruh prinsip-prinsip pengamanan TFCA Kalimantan—seperti penghormatan hak masyarakat adat, kesetaraan gender, perlindungan keanekaragaman hayati, partisipasi aktif, dan tata kelola yang transparan—akan dijalankan secara menyeluruh. Pendekatan ini diperkuat dengan perspektif lanskap dan pelibatan lintas sektor dari awal hingga akhir proyek.

“Hal ini diperkuat dengan pendekatan lanskap dan pelibatan lintas sektor dari awal hingga akhir proyek,” tutupnya.


Penulis: Mahmudi
Editor: Thomas Irawan Sihombing