Share
- 🌿 1. Mendukung Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan Gambut
- 💰 2. Meningkatkan Mata Pencaharian Masyarakat
- 🐘 3. Melindungi Keanekaragaman Hayati dan Fungsi Ekosistem Hutan
- 📡 4. Berbagi Pengalaman dan Memperluas Dampak Program Aksi REDD+
- 🌏 Pendekatan Lanskap: Kunci Keberhasilan Program
- 💎 Penutup

Pontianak, naturalkapital.or.id. Program penguatan mitigasi dan adaptasi iklim desa gambut yang mulai dijalankan oleh Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) bersama TFCA Kalimantan bukan hanya soal membasahi kembali lahan gambut yang kering atau menanam pohon. Lebih dari itu, program yang menyasar tiga desa gambut di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat – Limbung, Pasak Piang, dan Kubu Padi – ini dirancang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap empat tujuan besar TFCA Kalimantan.
Program Manager Proyek YNKI-TFCA, Putri Lestari, menjelaskan bahwa program ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk menjawab tekanan serius yang dihadapi lanskap gambut Kubu Raya. Mulai dari konversi lahan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berulang, hingga lemahnya sistem perencanaan mitigasi di tingkat desa.
“Kami tidak hanya datang untuk merestorasi. Kami datang untuk membangun sistem. Desa harus punya peta tata guna lahan yang jelas, punya data emisi, dan punya kapasitas mengelola sendiri program iklim jangka panjang,” ujar Putri.
Berikut adalah keempat tujuan mulia yang diwujudkan program ini, sekaligus bukti bahwa pendekatan YNKI jauh melampaui sekadar restorasi fisik.
🌿 1. Mendukung Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan Gambut
Program ini melakukan intervensi melalui tiga jalur utama:
- Restorasi gambut dengan teknik rewetting (pembasahan kembali) melalui pembangunan sekat kanal (canal blocking), serta revegetasi dengan tanaman endemik gambut.
- Pendataan jejak karbon desa dan penyusunan Rencana Aksi Mitigasi Desa (RAMDes) berbasis aktivitas nyata di lapangan.
- Integrasi dengan skema pendanaan seperti dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Program Kampung Iklim (PROKLIM), hingga CSR korporasi.
Dengan pendekatan ini, desa-desa gambut tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga memiliki bukti terukur yang bisa digunakan untuk mengakses insentif berbasis hasil (result-based payment).
💰 2. Meningkatkan Mata Pencaharian Masyarakat
YNKI menyadari bahwa restorasi tidak akan berkelanjutan jika masyarakat tidak merasakan manfaat ekonomi. Oleh karena itu, program ini secara aktif mendorong model ekonomi desa berbasis restorasi gambut:
- Pengembangan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan Agroforestri seperti kopi Liberika dan Robusta dari agroforestri gambut.
- Pendampingan legalitas usaha (NIB, PIRT, sertifikasi Halal) bagi industri rumah tangga (IRT) di desa dampingan.
- Pelatihan pertanian tanpa bakar dan praktik pertanian regeneratif.
- Fasilitasi akses pasar melalui business matching dengan off-taker dan mitra di Pontianak.
“Kebutuhan kopi yang tinggi dan naiknya harga karet saat ini menjadi peluang besar. Kami bantu petani memperbaiki mutu dan kemasan, agar produk mereka tembus pasar yang lebih luas,” tambah Putri.
🐘 3. Melindungi Keanekaragaman Hayati dan Fungsi Ekosistem Hutan
Fokus khusus diberikan pada Desa Kubu Padi, yang masih memiliki tutupan hutan alam dan merupakan habitat kritis bagi spesies langka seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Trenggiling (Manis javanica) yang berstatus kritis (Critically Endangered).
Langkah-langkah yang dilakukan:
- Penguatan Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) agar mampu menyusun zonasi pengelolaan yang memisahkan area konservasi dari zona produksi.
- Pemetaan partisipatif untuk mengidentifikasi habitat prioritas dan koridor satwa.
- Perlindungan spesies payung seperti Orangutan, yang secara otomatis melindungi spesies lain di dalamnya.
Pendekatan ini juga memperkuat konektivitas ekologis antar zona produksi dan konservasi di lanskap desa, sejalan dengan prinsip ekologi lanskap (patch, corridor, matrix).
📡 4. Berbagi Pengalaman dan Memperluas Dampak Program Aksi REDD+
Salah satu inovasi unggulan program ini adalah pengembangan “Dashboard Emisi dan Zona Mitigasi Desa” yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Desa (SID).
Apa yang bisa dilakukan dashboard ini?
- Menampilkan peta tata guna lahan desa, zona konservasi, dan area restorasi.
- Menyajikan data baseline emisi dan skenario penurunan emisi.
- Menjadi media pembelajaran terbuka bagi desa-desa lain, pemerintah kabupaten, dan para pihak yang ingin mendukung aksi iklim.
“Dashboard ini bukan sekadar pajangan. Ini adalah alat tata kelola, transparansi, dan advokasi. Lewat sini, desa bisa menunjukkan capaian mereka dan menarik dukungan dari luar,” jelas Putri.
Selain platform digital, YNKI juga aktif menyebarluaskan praktik baik melalui media sosial, konten visual, dan forum pembelajaran antar-desa. Semua ini menjadi titik masuk partisipasi desa dalam kebijakan konservasi hingga tingkat nasional, menuju target FOLU Net Sink 2030.
🌏 Pendekatan Lanskap: Kunci Keberhasilan Program
Yang membedakan program ini dari proyek konservasi konvensional adalah pendekatan lanskap yang secara aktif melibatkan semua pemangku kepentingan (para pihak). Bukan hanya masyarakat desa, tetapi juga:
- Pemerintah kabupaten (Bappeda, DLHK, Dinas Perkebunan)
- BKSDA Kalbar sebagai otoritas konservasi satwa liar
- BUMN dan swasta
- Akademisi dan lembaga riset
- Donor dan mitra pembangunan
Dengan forum dialog multipihak yang terjadwal, diharapkan setiap aktor memiliki rasa memiliki terhadap program. Ketika terjadi kebakaran atau konflik satwa, responsnya cepat karena semua pihak sudah terlatih dan memiliki saluran komunikasi yang jelas.
💎 Penutup
Program YNKI bersama TFCA Kalimantan ini bukan sekadar restorasi gambut. Ia adalah upaya sistematis untuk membangun tata kelola iklim desa yang utuh: dari perbaikan ekosistem, peningkatan ekonomi rakyat, perlindungan satwa langka, hingga penyediaan data dan platform untuk pembelajaran bersama.
Program sedang dimulai dan akan berlangsung selama 24 bulan, program ini diharapkan menjadi percontohan bagi desa-desa gambut lainnya di Kubu Raya dan Kalimantan Barat. Karena pada akhirnya, ketahanan iklim tidak mungkin dicapai sendirian – ia membutuhkan kolaborasi lintas sektor, pendekatan lanskap, dan komitmen bersama.
Penulis: Mahmudi
Editor: Thomas Irawan Sihombing
