Categories: News Features
Categories: News Features

Share

Roaster dan brewer kopi Kalimantan Barat, Yuliantini dari YNKI (kanan) berdiskusi ihwal perkopian dengan Kades Limbung, Wiyono (kiri) di kantor desa Limbung di jalan Merdeka II Limbung, Sungai Raya, KKR, Kalbar, Rabu, 29 April 2026. (Foto: Mahmudi/Natural Kapital)

Kubu Raya, naturalkapital.or.id. Namanya mungkin tak lagi seterkenal dulu. Namun di balik hamparan lahan gambut yang kini sering dilanda kebakaran, Desa Limbung menyimpan cerita kejayaan yang nyaris terlupakan: desa ini pernah menjadi salah satu pemasok utama beras kopi ke Kota Pontianak dan berbagai daerah di Kalimantan Barat.

“Beras kopi desa Limbung zaman dulu menjadi bagian dari rantai pasok ke ibukota provinsi, Pontianak, dan kabupaten serta kota se-Kalbar. Akan tetapi di masa sekarang, kurang termasyhur lagi,” ungkap Yuliantini, S.Hut, staf ahli agroforestri Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI), di ruang kerja Kepala Desa Limbung, Wiyono, Rabu (29/4/2026).

Apa yang terjadi? Puluhan tahun kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berulang di lahan gambut, perlahan tapi pasti, menggerus habis kejayaan beras kopi desa Limbung.


Apa Itu Beras Kopi?

Beras kopi adalah sebutan untuk biji kopi yang telah melalui proses pascapanen hingga siap sangrai. Prosesnya panjang: buah kopi dipetik, kulit buah dan kulit tanduknya dibuang, lalu bijinya dikeringkan hingga kadar airnya berkurang. Hasilnya adalah green bean—biji kopi mentah yang siap dipasarkan.

“Beras kopi inilah yang selanjutnya dapat diproses untuk disangrai atau bisa langsung dijual. Tentu setelah dipilah dan dipilih berdasarkan ukuran, kecacatan, serta kotoran atau benda asing, supaya memenuhi standar mutu kopi beras yang ada sesuai permintaan pasar,” jelas Yuliantini, lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.

Proses sortir beras kopi ini, menurutnya, biasanya dilakukan secara manual oleh kaum ibu-ibu petani atau pekerja musiman di warga binaan YNKI. Namun ke depan, ia membayangkan penggunaan teknologi: “Setelah melalui pelatihan sistem klasifikasi mutu beras kopi berdasarkan warna dan bentuk, menggunakan pengolahan citra dan jaringan syaraf konvolusional.”


🌿 Kopi Liberika: Jenis yang Paling Cocok untuk Lahan Gambut

Desa Limbung, dengan 70% lahannya berupa gambut, dataran rendah, dan paparan sinar matahari sepanjang tahun, memiliki karakteristik lahan yang unik. Tidak semua jenis kopi cocok ditanam di sini.

“Desa Limbung mayoritas di lahan gambut, dataran rendah, dan paparan sinar matahari ada sepanjang tahun, bagusnya pakai kopi jenis Liberika,” saran Yuliantini.

Kopi Liberika memang dikenal sebagai jenis kopi yang tangguh dan adaptif. Berbeda dengan Arabika yang manja dan Robusta yang toleran, Liberika mampu tumbuh optimal di tanah gambut yang asam, iklim panas lembap, serta tahan terhadap serangan hama tertentu. Lebih jauh lagi, kopi Liberika memiliki kandungan kafein yang rendah (sekitar 0,08–0,1 persen), sehingga aman dikonsumsi oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang memiliki keluhan terhadap kafein.

Cita rasanya juga unik: aroma khas, tingkat keasaman yang lebih rendah, dengan sentuhan rasa buah yang khas. Tak heran, Kopi Liberika Kayong Utara, tetangga Kubu Raya, pernah meraih penghargaan Best Alternative Coffee in the World pada tahun 2022. Potensi yang sama juga dimiliki oleh Desa Limbung.


🔥 Karhutla: Biang Kerok Hampir Punahnya Beras Kopi Limbung

Lalu, mengapa kopi Liberika Limbung yang dulu jaya kini nyaris punah?

Jawabannya adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berulang setiap tahun. Lahan gambut yang kering akibat kanal-kanal drainase untuk perkebunan dan pemukiman, menjadi sangat mudah terbakar. Api tidak hanya membakar semak belukar, tetapi juga merambat ke dalam tanah gambut, membakar akar-akar tanaman kopi yang sudah puluhan tahun tumbuh.

“Puluhan tahun didera kebakaran hutan dan lahan akhirnya hampir punah,” tutur Yuliantini.

Akibatnya, kebun-kebun kopi yang dulu menjadi kebanggaan desa, perlahan ditinggalkan para pekebun. Warga beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih tahan banting, atau meninggalkan lahannya begitu saja.


🌱 Program TFCA-YNKI: Ambisi Kebangkitan Kembali Beras Kopi Limbung

Melalui program TFCA Kalimantan yang dioperatori Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) Jakarta dan dilaksanakan oleh YNKI, ada secercah harapan bagi kebangkitan beras kopi Desa Limbung.

“Program TFCA Kalimantan ini, dibiayai dari dana hutang pemerintah Indonesia ke pemerintah Amerika Serikat. Pihak pemerintah Amerika Serikat mengalihkan hutang pemerintah Indonesia, supaya dikembalikan ke rakyat Indonesia, melalui program yang berfokus pada konservasi, restorasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah seperti Kalimantan dan Sumatera. Disebabkan kita di Kalimantan ya namanya TFCA Kalimantan,” jelas Yuliantini.

Selain Desa Limbung, program ini juga menyasar dua desa gambut lainnya di Kubu Raya: Desa Pasak Piang (Kecamatan Sungai Ambawang) dan Desa Kubu Padi (Kecamatan Kuala Mandor B).

Salah satu bentuk intervensi nyata yang akan dilakukan adalah bantuan bibit kopi Liberika, disertai dengan pendampingan teknis mulai dari perawatan, pascapanen, hingga branding dan pengemasan.

“Branding (penjenamaan) dan packaging (pengemasan) beras kopi desa Limbung ada peluang untuk dikembalikan kejayaannya,” tegas Yuliantini.

Tak hanya itu, program ini juga bertujuan untuk menekan terjadinya Karhutla di lahan gambut Desa Limbung melalui kegiatan restorasi gambut (rewetting dengan kanal blok) dan pertanian tanpa bakar.


🎯 Doa dan Harapan untuk Dua Tahun ke Depan

Yuliantini berdoa, semoga program YNKI–Kehati selama dua tahun ke depan (April 2026–Maret 2028), yang bertajuk “Penguatan Mitigasi dan Adaptasi Iklim Desa Gambut Kabupaten Kubu Raya” , benar-benar dapat membawa perubahan.

Tidak hanya mengembalikan kejayaan beras kopi Limbung, tetapi juga menjadikan desa ini sebagai percontohan desa gambut yang tangguh terhadap perubahan iklim—tempat di mana ekonomi warga naik, hutan gambut terlindungi, dan kopi Liberika kembali berjaya seperti sedia kala.


Penulis: Mahmudi
Editor: Haryono