
Pegiat lingkungan Natural Kapital (dari kanan ke kiri) Thomas Irawan Sihombing, Dwi Anggradini Putri, Putri Lestari, dan Zulfa Laylia Hauro, berdiskusi ihwal flora dan fauna lahan gambut, memperingati International Day of Forest 2026 di kantor YNKI di Pontianak, Sabtu, 21 Maret 2026. (Dokumen foto YNKI)
Kubu Raya, naturalkapital.or.id. Di balik hamparan lahan gambut Desa Pasak Piang, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya (KKR), Kalimantan Barat, tumbuh secuil tanaman liar yang menyimpan nilai ekonomi tinggi. Cakar Elang atau Katenis ligni—sebutan lokal untuk tanaman rambat khas gambut—telah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga desa.
*”Cakar Elang sejenis tanaman merambat atau kait-kait yang memiliki nilai ekonomis. Warga desa Pasak Piang memanfaatkan potensi ini untuk menambah pendapatan. Kisaran harganya ketika booming mencapai Rp85.000 per kilogram (kg). Sedangkan kondisi jatuh sekalipun, masih berada di harga Rp35.000,” ungkap Kepala Desa Pasak Piang, Surip, S.Pd.I di ruang kerjanya, Senin (4/5/2026).
Tanaman yang tumbuh subur dan merambat di area semak belukar ini dipercaya memiliki berbagai khasiat kesehatan. Namun, potensinya masih bisa dikembangkan lebih jauh.
💰 Nilai Ekonomi dan Manfaat Kesehatan
Cakar Elang bukan sekadar tanaman liar. Ia adalah sumber penghidupan alternatif bagi warga Desa Pasak Piang. Harganya yang stabil, bahkan di saat “jatuh” sekalipun (Rp35.000/kg), menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap tanaman ini cukup konsisten.
“Tanaman ini dipercaya dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh, menurunkan darah tinggi, meredakan nyeri, dan mengurangi peradangan di luar obat kimia,” jelas Kades Surip.
Tak hanya untuk kesehatan manusia, Cakar Elang juga memiliki pasar unik di kalangan pecinta burung.
“Cakar Elang ada yang dijadikan suplemen untuk meningkatkan stamina, nafsu makan, dan kegairahan burung kicau yang berlaga di kicau mania,” tuturnya.
🌿 Asal-Usul Nama dan Identitas Ilmiah
Mengapa disebut Cakar Elang? Kades Surip menjelaskan bahwa nama tersebut merujuk pada bentuk fisik tanaman.
“Tanaman rambat ini di ruasnya memiliki bentuk sulur yang melingkar, seperti cakar burung Elang yang sedang mencengkeram.”
Secara botani, tanaman ini diduga merupakan kelompok liana tropis pemanjat dari genus Smilax yang tumbuh alami di kawasan rawa gambut lembap. Sulur kecil pada pangkal tangkai daun menjadi alat utama untuk membelit vegetasi lainnya, sehingga dapat memanjat menuju cahaya matahari. Di tengah tanah gambut yang lunak dan miskin unsur hara, strategi ini memungkinkan tanaman bertahan tanpa harus membentuk batang besar.
| Tingkatan Taksonomi | Klasifikasi |
|---|---|
| Domain | Eukaryota |
| Kerajaan | Plantae |
| Divisi | Magnoliophyta |
| Kelas | Magnoliopsida |
| Subkelas | Liliidae |
| Ordo | Liliales |
| Famili | Smilacaceae |
| Genus | Smilax |
| Spesies | Smilax sp. |
| Nama Lokal | Cakar Elang, Kait-kait, Belangkait |
| Nama Herbal/Dagang | Katenis ligni |
💡 Harapan: Dari Rajangan Kering Menjadi Produk Turunan
Saat ini, pemanfaatan Cakar Elang oleh warga masih terbatas pada bentuk rajangan kering yang diseduh sebagai teh herbal.
“Saat ini, warga di desa kami Cakar Elang yang dirajang dan dikeringkan, baru mengerti untuk dibikin seduhan teh herbal,” kata Kades Surip.
Ia berharap ke depan ada inovasi dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) dan pemerintah daerah, untuk menciptakan produk turunan dari Cakar Elang.
“Supaya tanaman gambut Cakar Elang lebih memiliki khasiat dan daya jual yang konsisten dan berkelanjutan,” pintanya.
Pengembangan produk turunan—seperti teh herbal dalam kemasan, ekstrak, atau bahkan produk kesehatan lainnya—akan meningkatkan nilai tambah dan stabilitas harga, sehingga warga tidak hanya bergantung pada fluktuasi pasar bahan mentah.
🌱 Simbol Hubungan Manusia dan Alam
Di balik nilai ekonominya, Cakar Elang juga menjadi simbol hubungan erat antara manusia dan alam gambut.
“Sekilas tampak sederhana, namun tanaman ini menyimpan cerita panjang. Khususnya tentang hubungan masyarakat gambut dengan alam di sekitarnya,” ujar Kades Surip.
Ia menambahkan bahwa Cakar Elang memperlihatkan bahwa ekosistem gambut masih menyimpan banyak pengetahuan lokal yang belum sepenuhnya terdokumentasi secara ilmiah.
“Vegetasi rawa yang sering dianggap biasa, terdapat tumbuhan-tumbuhan kecil dengan nilai budaya, ekologis, dan ekonomi yang hidup bersama masyarakat selama bertahun-tahun,” kupasnya.
Penulis: Mahmudi
Editor: Anas Nasrullah
