Kalbar Darurat Banjir

Banjir melanda Desa Pancaroba dan Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang akhir tahun lalu. (Foto: pontianakpost.co.id)

Memasuki musim penghujan, kiranya bukan hanya payung yang dipersiapkan, beberapa daerah di kalbar harus menjaga harta, benda dan keluarganya dari terjangan banjir.

Baru-baru ini kecamatan Sungai Ambawang menjadi sorotan. Dari desa pancaroba hingga teluk bakung mengalami banjir yang bervariasi tingginya. Dari semata kaki hingga 1 meter. Sebelumnya, banjir juga sampai di Desa Tenguwe Kecamatan Air Besar Kabupaten Landak pertengahan Desember. Sedangkan di Pontianak, banjir sudah berkali-kali menggenang saat hujan deras mengguyur ibu kota provinsi tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat, Lumano mengungkapkan sejumlah daerah yang terendam banjir dan longsor di Kalbar pada beberapa hari terakhir di bulan Desember 2019. 

Lumano mengatakan, beberapa kabupaten yang terendam banjir tersebut di antaranya adalah Kabupaten Sambas, Melawi, Sekadau, Landak, Kapuas Hulu, Sanggau, dan Bengkayang. 

“Daerah yang terkena banjir dan tanah longsor di wilayah Kalimantan Barat ada beberapa seperti di Kabupaten Sambas, Melawi, Sekadau, Landak, Kapuas Hulu, Sanggau dan Bengkayang,” ungkapnya yang dikutip dari Hi!Pontianak, Senin (9/12). 

Wahyuningtyas dan Pratomo pernah meneliti tentang potensi multi bencana di Kabupaten Landak pada tahun 2015. Dalam penelitian yang terbit di Jurnal Geoplanning ini menyatakan jika ada 5 bencana yang berpotensi terjadi di Landak. Longsor, Angin puting beliung, kebakaran hutan, kebakaran pemukiman dan tentu, Banjir. 

Daerah Landak terbagi ke dalam 3 tingkat kerawanan banjir: rendah, sedang dan tinggi. Dari total luas landak, hanya 2.02% yang masuk ke dalam rawan rendah atau cukup aman, sisanya 57.85% masuk ke dalam kerawanan sedang dan 40.11% landak berpotensi tinggi banjir. 

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Kabupaten landak seperti topografi yang relatif datar hingga pemukiman masyarakat di daerah parkir banjir serta alih fungsi lahan untuk berbagai keperluan.

Angka-angka ini muncul dari berbagai faktor yaitu kelerengan, intensitas hujan, penutupan lahan, bentuk lahan, dan penutupan. Intensitas hujan dan penutupan lahan menjadi penyebab tertinggi dari penilaian ini. Sehingga tidak heran bila intensitas hujan yang tinggi terjadi di daerah yang gundul atau minim resapan air, maka landak hampir dipastikan banjir.

Sedangkan di penelitian sebelumnya, tahun 2011. Nanik Suryo Haryani meneliti tentang tingkat kerawanan banjir di Kalimantan Barat, ada tiga daerah setingkat kota yang masuk ke dalam tingka ke rawanan banjir yaitu Kota Singkawang, Kabupaten Pontianak (kini Mempawah) dan Kabupaten Sintang dan Putussibau (Kapuas Hulu) dengan daerah terluas di Kabupaten Sintang.

Bila ditarik satu pola, maka sebetulnya banjir yang terjadi di kalimantan barat selalu melanda tatkala musim penghujan datang. Terutama di daerah-daerah hulu yang jauh dari laut. Penyebab banjir kontan hanyalah hujan deras yang melanda.

Manusia tentu tidak bisa mengatur intensitas hujan yang akan turun, namun kenyataan bahwa banjir terus terjadi artinya alam sedang berada dalam kondisi yang tidak seimbang.

Ada banyak penelitian yang menyebutkan bila terdapat hubungan serius antara hilangnya tutupan lahan dengan terjadinya bencana. Seperti penelitian oleh Diah Auliyani di Daerah Aliran Sungai Sepauk dan Tempunak, Sintang. Ia menjabarkan bahwa peningkatan luas daerah bahaa banjir mengindikasikan [eningkatan lahan terdegrasi. Di DAS Sepauk misalnya, penguangan luas hutan sebesar 6.6% untuk lahan kering primer dan 8.3% untuk hutan lahan kering sekunder dalam periode 2001-2009. 

dan jika kita berkaca skala regional. Kita masih harus menarik nafas panjang untuk bencana yang mungkin terjadi akibat deforestasi. Dari data yang dihasilkan oleh Pusat Peneitian Kehutanan Internasional (CIFOR) menjabarkan bila sejak tahun 2000 sampai tahun 2017 ada 6.04 juta hektar hutan tua telah hilang di kalimantan. Dan setengah dari angka itu, jenisnya dikonversi menjadi areal perkebunan. Untuk data yang termutakhir, tentu kebakaran hebat hutan dan lahan yang terjadi di musim kemarau 2019. Sejak januari hingga September 2019, 127.462 hektar lahan terbakara angka ini lebih luas dari 12 kali luas kota Pontianak. 12 kali kota Pontianak, Tutupan lahan hilang. 

Bila mengacu pada penelitian Diah, maka Penutupan lahan berupa hutan sangat mempengaruhi fungsi penyerapan DAS terhadap air hujan. Penurunan persetase luas hutan mengakibatkan kenaikan koefisien run-off, peningkatan debit maksimum harian dan menurunkan baseflow. Singkatnya, air yang turun lebih cepat mengalir atau tidak tertahan oleh hutan. Akibatnya, sekali terjadi hujan, maka genangan banjir mudah terjadi.