Ugensi Pemulihan Kawasan Gambut Lanskap Delta Kapuas

Kawasan Lanskap Delta Kapuas

Akhir Desember 2019, banjir besar terjadi di beberapa daerah di Kecamatan Sungai Ambawang. Rusaknya gambut ditengarai menjadi penyebab banjir tahunan itu.

Naturalkapital.or.id - Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam Dokumen rencana restorasinya untuk tahun 2018 menargtkan 119.634 ha lahan gambut di Kalimantan Barat. Angka itu tersebar di semua kabupaten di Kalimantan Barat dengan terbesar berada di Kabupaten Kubu Raya dengan luas 48.763 ha. 

Lebih dari separuh (53,56 %) lahan gambut target restorasi di Provinsi Kalimantan Barat merupakan lahan gambut yang berada di kawasan budidaya dengan status berizin. Para pemegang izin konsensi mempunyai peran cukup besar dalam percepatan pemulihan areal gambut terdegradasi dan pengembalian fungsi hidrologis gambut.

Salah satu yang termasuk dalam kawasan berizin itu berada di Lanskap Delta Kapuas. Lanskap ini merupakan bentang alam yang didelineasi berdasarkan fungsi ekologis dan daerah aliran sungai. Areal Lanskap Kapuas Delta merupakan kawasan dengan fungsi ekologis gambut. Setidaknya 46.610 hektar teridentifikasi sebagai areal target pemulihan pada lanskap Kapuas Delta yang merupakan bagian utama dari lanskap gambut (KHG) Kapuas-Ambawang. 

Seperti di sebagian besar lahan gambut berizini, Fungsi Ekologis Gambut pada lanskap Delta Kapuas telah berada dalam kategori kritis dan terancam. Hal itu  terjadi karena tingginya aktivitas berbasis hutan dan lahan yang berada pada areal lansekap, seperti: pembukaan lahan pertanian oleh masyarakat, illegal logging serta kegiatan pembukaan perkebunan sawit skala besar oleh perusahaan pemegang izin. 

Setidaknya terdapat 10 (Sepuluh) pemegang izin konsesi perkebunan sawit skala besar di Lanskap Delta Kapuas, yaitu: PT Cipta Tumbuh Berkembang, PT Pundi Lahan Khatulistiwa, PT Bumi Alam Sentosa, PT Nusa Jaya Perkasa, PT Pinang Witmas Abadi, PT Parna Agromas, PT Palmdale Agro Asia Lestari Makmur, PT Kusuma Alam Sari, PT Bumi Perkasa Gemilang dan PT Graha Agro Nusantara. 

Haryono selaku Direktur Yayasan Natural Kapital Indonesia menjelaskan bahwa menjadi penting pemulihan di kawasan Lanskap Delta Kapuas karena fungsi hidrologis di kawasan tersebut sudah rusak. 

“Seperti banjir yang terjadi kemarin (di Sungai Ambawang), berarti fungsi hidorlogisnya terganggu. Bisa dilihat dari foto-foto satelit dimana kanal-kanal dibangun. Dimana kanal-kanal itu dibangun idenya dulu mengeringkan gambut. Ketika gambut kering sebenarnya gambut itu telah rusak,” jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa fungsi hidrologi tanah gambut yang perlu dipulihkan. Fungsi hidrologi ini dimakudkan agar gambut kembali basah dan berfungsi laiknya gambut sebagai serapan air dan menjaganya air tetap berada di tanah gambut baik musim hujan maupun musim kemarau. Termasuk untuk daerah yang telah ditanami sawit. 

“Untuk daerah-daerah yang tidak ditanami sawit, ya pemulihannya bukan hanya air tapi tanamannya juga, tanaman hutannya dipulihkan,” imbuh Haryono. 

Meski begitu, untuk melakukan pemulihan menurut Haryono perlu kerjasama antar pihak dalam lanskap. Setiap pihak perlu memiliki kesamaan visi dalam mengelola dan memelihara lahan gambut. 

“Semua orang berhak menikmat jasa lingkungan yang baik, termasuk jalannya pun punya hak untuk tidak rusak kena banjir atau subsidensi gambut,” ia memungkasi.