Agenda Perubahan Iklim Memasuki Tahun Krusial

Warga melintas diatas daerah yang terdampak banjir di Kota Ormok, Filipina, pada Hari Natal lalu. (Foto: Ronald Frank Dejon/AFP)

Tahun 2020 menjadi waktu penting bagi aksi melawan perubahan iklim terutama terkait Perjanjian Paris. Pasalnya tahun itu merupakan tahun terakhir bagi negara di dunia peratifikasi bila tak ingin upayanya selama ini sia-sia.

Upaya penting itu dilakukan setelah temuan terbaru yang diterbitkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Oktober lalu. Di dalamnya menyebutkan bila tujuan awal global dengan menahan laju pemanasan global pada angka 2 derajat celcius tidak bisa lagi digunakan. Setidaknya target itu harus diubah menjadi di bawah 1.5 derajat celcius pada tahun 2030 sebagai ambang aman. Caranya dunia perlu memotong gas rumah kaca sebesa 45% dari yang terjadi di tahun 2010 pada 2030.

Dan untuk mencapainya, para ilmuan sepakat agar pihak yang berwenang mengulang kembali skenario yang telah dibuat dan 2020 harus menjadi tahun untuk aksi yang terkordinasi dan menyeluruh dalam menahan perubahan iklim.

“Kita bisa mencoba untuk mengurangi (emisi) bahkan lebih cepat pada tahun tahun selanjutnya, namun bila kita tidak mencapainya pada tahun 2030, ini akan sangat sulit mencari cara untuk menjaga suhu tetap di bawah ambang aman 1.5 derajat celcius,” ungkpa Michael Mann, Ilmuan Atmosfer dari Penn State University, dilansir dari Public Radio International

Perjanjian Paris yang diselenggarakan di tahun 2015 diinisiasi akibat naiknya suhu bumi secara eksponensial sejak akhir dekade 90. Revolusi industri dinilai menjadi penyumbang utama akibat banyaknya emisi yang dilepaskan dari hasil kerjanya. Diproyeksi bila tidak ada agenda masif dan progresif dari semua elemen, bumi akan menghadapi bencana iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Meski negara-negara telah membuat rencana bersama untuk menghentikan perubahan iklim(Paris Climate Agreement), pekerjaan itu masih jauh dari kata usai. Jurang antara kesepakatan negara-negara atas apa yang akan dilakukan dengan perkataan dari para ilmuan untuk menghindari bencana iklim masih terlalu jauh. 

Konferensi Tingkat Tinggi Iklim (COP25) yang digelar di Madrid, Spanyol pada 2 -12 Desember 2019 juga dinilai masih belum membuahkan hasil nyata. 

Atas hasil yang dinilai belum maksimal itu Patricia Espinosa selaku Sekretaris Eksekutif UNFCCC dalam pernyatannya beberapa hari selepas COP25 mengungkapkan semua peserta KTT tersebut masih memiliki pekerjaan rumah yang perlu dikejar.

“Kita harus terus terang bahwa konferensi tidak menghasilkan kesepakatan yang sangat dibutuhkan tentang pedoman untuk pasar karbon, yaitu bagian utama untuk meningkatkan ambisi dalam pememanfaatan potensi sektor swasta dan menghasilkan dana untuk adaptasi,” katanya dikutip dari laman online UNFCCC.

“Bersama, dengan semua sektor dari ekonomi dan sosial dalam skala luas, kita perlu bekerja keras menghadapi tantangan terbesar generasi kita,” Ia memungkasi.

Untuk mencapai tujuan itu, UNFCCC menetapkan batu peringatan setiap 5 tahun yang untuk mengevaluasi kinerja dan memperkuat komitmen. Karena Perjanjian Paris dilakukan tahun 2015, maka evaluasi pertama itu jatuh pada 2020. Setidaknya di tahun 2020, setap pemerintah nasional harus memastikan seberapa jauh mereka bisa mengurangi emisi di negaranya dan mengirim rencana aksi selanjutnya dalam pertemuan yang akan dilakukan pada December 2020. (adi)