Nepethes Clipeata Yang Hampir Punah

Nepenthes Cipeata/Foto by: A garden's chronicle

Naturalkapital.or.id, Pontianak -- Selasa tanggal 27 Mei 2020, Tim operasi gabungan Ditjen Gakkum KLHK dan BKSDA Kalbar SKW II Sintang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menahan dua orang pelaku perburuan dan perdagangan tumbuhan satwa liar jaringan internasional.

Pelaku berinisial RB (23) dan MT (32) diamankan beserta barang bukti 25 paket kantong semar (spesies Nepenthes Clipeata dan Nepenthes spp) dan sejumlah tumbuhan lainnya, di Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau.

Penangkapan itu menambah catatan Panjang perburuan terhadap endemic lokal dengan nama latin Nepenthes Clipeata di Kalimantan barat yang menurut IUCN kini berstatus sangat langka dan berpotensi besar punah. Kini, keberadaan Nepenthes Clipeata diperkirakan tidak lebih dari 50 individu di habitat aslinya, TWA Bukit Kelam, Sintang.

Nepenthes Clipeata memiliki keunikan yang tinggi. Sifat endemiknya bukan hanya pada regional Kalimantan ataupun Sintang, namun karena tempat hanya tumbuh di Batuan Granit Bukit Kelam.

N. Clipeata pertama kali diidentifikasi pada tahun 1894 oleh Johan Halljer di Bukit Kelam, di bagian atas Kapuas Basin dekat Kota Sintang. Nepenthes Clipeata hidup bebatuan granit di Bukit kelam pada ketinggian 700-900 meter. Ia terutama berada di dinding bukit kelam dengan sudut mendekati 90 derajat. Penelitian selanjutnya oleh berbagai Lembaga menunjukkan bahwa N. Clipeata hanya tumbuh di satu lokasi yaitu di Bukit Kelam.

Hal ini mengakibatkan keberadaanya sangat terancam baik karena lokasinya yang kecil serta perburuan para kolektor tanaman langka. Setidaknya, tumbuhan ini mengalami penurunan signifikan dalam 30 tahun terakhir.

Menurut catatan Chien Lee, terdapat dua kebakaran di Bukit kelam yang menghanguskan N. Clipeata. Pada tahun 1982-1983 musim kemarau yang melanda. akibatnya habitat N. Clipeata di jalur pendakian bukit kelam rusak dan tak lagi tumbuh. Kebakaran kedua terjadi pada tahun 1997-1998. El-Nino yang melanda Indonesia termasuk Kalimantan Barat mengakibatkan berbulan-bulan tidak turun hujan. Hal itu mengakibatkan kawasan di sekitar Bukit Kelam mengalami kekeringan dan rawan terbakar. Kebakaran yang terjadi di Bukit Kelam pada tahun 1997 disinyalir terjadi akibat para pendaki yang membuat api saat menginap di Bukit Kelam. Kebakaran kali ini menghanguskan Sebagian besar habitat N. Clipeata.

Hal-hal ini yang mendasari IUCN memasukan N. Clipeata pada kategori Sangat terancam (CE) pada tahun 2001. Meski telah ditetapkan dalam kategori sangat terancam, munculnya pasar penjualan tumbuhan langka di tahun 2006 di Indonesia membuat permintaan terhadap N. Clipeata meninggi. Hal ini mendorong para pemburu tanaman langka untuk mengisi peluang bisnis tersebut yang mengantarkan keberadaan spesies endemic menuju kepunahan.

Chien lee juga memprediksi, tiadanya upaya konservasi yang radikal dan skema perlindungan yang tegas dari pemerintah membuat spesies ini akan mengalami kepunahan dalam 20 tahun mendatang.[]