Hasil Alam Terkendala Jalan

Seorang pemandu perahu (tempel) yang duduk paling depan di perahu, ia memberikan isyarat kepada pengemudi untuk mengambil jalur yang tepat.

“entah apa salah silat hulu, dari dulu tidak pernah ada perubahan,” kalimat itu disampaikan oleh Ingsun, salah seorang tetua adat Suku Suang Ensilat, Sabtu(7/3).

Memang bukan perkara mudah mencapai Desa Nanga Lungu. Pasalnya, untuk mencapai desa nanga lungu perkara mudah mencapai desa Nanga Lungu. Kami perlu berkendara 2 jam perjalanan darat dari pusat pemerintahan kecamatan Silat Hulu di Desa Dangkan menuju desa Nanga Pengga, lalu ditambah 30 menit mengarung sungai silat untuk sampai di desa Nanga Lungu. Jalur sungai dari Desa Pengga hingga nanga lungu sebenarnya bisa saja tidak digunakan, akan tetapi ketika kami berniat melewati jalur darat awal maret lalu, kondisi sedang sangat buruk dan memang hampir sepanjang musim hujan, kondisi jalan selalu buruk.

Akses selain jalan darat adalah jalur sungai untuk mengeluarkan hasil alam dari Nanga Lungu. Akan tetapi, menggunakan jalur sungai dari Nanga Lungu hingga Desa Dangkan terlalu beresiko. Warga pun semakin takut menggunakan jalur sungai setelah tahun 2017 lalu sebuah sampan bermesin terbalik di sungai silat dan menyebabkan 6 orang tewas.

Keterbatasan akses pada akhirnya mempersulit akses ekonomi masyarakat untuk berkembang. Beberapa yang menyerah dengan harga yang rendah akhirnya membiarkan hasil alamnya tak terjual.

“Tahun lalu tembawang (buah tengkawang) banjir, banyak sekali tapi karena tak ada harganya ya sudah dibiarkan begitu jak,” ungkapnya.

Begitupun harga karet yang lebih rendah dari desa lain di silat hulu. Untuk Desa Nanga Lungu harga karet berkisar 6 ribu/kilo dalam bentuk kulat.

“Sebenarnya pak potensi alam di sini besar sekali, semua orang di sini itu masih bergantung sama alam, cuma ya itulah, sejak karet turun kita memang terasa apa-apa sulit,” kata Ingsun, Tumenggung suku Suang Ensilat.

Kini andalan mereka selain karet adalah berladang. 95% warga nanga lungu berladang yang hasilnya untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan tidak untuk dijual.