Tumenggung, Dirigen Alam

Tumenggung Kantuk Sebaru, yang bernama Rajang di kediamannya, Desa Sungai Sena, Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu.

“Betungkat ke adat basa, bepegai ke pengatur perkara.”

 

Pak Rajang tengah membersihkan sirih ketika kami datang di kediamannya di Sungai Sena, Kecamatan Silat Hilir, Kapuas Hulu. Sirih ini barusaja dipetiknya dari tumpangnya yang hidup di samping rumah untuk merandai, menginang atau biasa juga disebut bersirih. Mengunyah sirih.

“Nyirih juga, biasa,” ungkapnya ketika ditanya soal aktivitasnya ketika itu.

Kebiasaan menyirih memang lazim dilakukan di desa-desa di Kapuas Hulu, bukan hanya para perempuan, para lelaki pun tak jarang ditemui tengah menyirih, termasuk seorang Tumenggung.

Seperti halnya Tumenggung Rajang. Ia adalah Tumenggung dari Suku Kantuk Sebaru. Tumenggung diistilahkan sebagai seorang kepala Suku. Ia memimpin satu suku sekaligus sebagai hakim dalam tiap perkara di lingkup warganya. Tiap-tiap permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang dialami oleh warga Kantuk Sebaru bisa diputuskan oleh seorang tumenggung.

Karena Tumenggung adalah pimpinan dari sebuah suku, maka wilayahnya tidak terbatas administrasi desa melainkan bergantung kepada dimana suku itu bermukim. Pak Rajang misalnya mengepalai setiap warga suku kantu’ sebaru di 6 Desa dalam kecamatan Silat Hilir. Miau Merah, Sungai Sena, Sentabai, Setunggul, Penai, Penai Atas.

“Permasalahan yang paling sering saya temui, terus terang saja soal lahan. Antara perusahaan dengan warga banyak sekali masalahnya. Sekarang ini kalau mau hidup enak jadi tumenggung gampang saja, dari perusahaan itu tiap waktu ditawari,” ia menuturkan.

Permasalahan terkait lahan antara perusahaan dengan masyarakat bisa diterima, pasalnya di wilayah adatnya, ada belasan konsesi sawit milik perusahaan besar seperti Riau Agrotama Plantation dan Sinarmas.

Rumah yang ia tempati bahkan berada dalam status konsesi milik PT Anugrah Makmur Sejati milik Sinar Mas Group.

Ia pun mengakui jika alam disekitarnya sudah jauh berubah. Akibatnya banyak kegiatan atau ritual adat yang menggunakan alam sebagai media tidak bisa dilakukan dengan sempurna.

“Sekarang kita jaga betul Bukit Penai itu. Kita sudah larang perusahaan untuk sampai keatas(puncak) bukit penai, karna kalau sudah sampai habislah sudah,” ungkapnya.

Larangan itu seperti tidak boleh mengambil kayu dari bukit, menuba ikan di sungai silat yang membelah bukit penai dan bukit Sagu.  Pengecualian yang diberikan hanyalah untuk keperluan kayu untuk peti mati, itu pun mesti izin pada para tetua adat.

“Siapa pun yang ganggu sudah melangar adat,” tegasnya.

Senada dengan Pak Rajang yang kini tengah berusaha mempertahankan kelestarian alam Silat Hilir, di hulu Kecamatan Silat Hulu, tepatnya di Desa Nanga Lungu seorang tumenggung yang lain tengah mempertahankan alamnya dari perusahaan Logging. Ia bernama Ingsun, tumenggung dari suku Suang Silat.

Bukan perkara mudah menjumpai desa Nanga Lungu. Dari pusat kecamatan di Desa Dangkan, kami perlu berkendara sekitar 2 jam hingga Desa Nanga Pengga, dari sana dilanjutkan dengan menggunakan perahu bermesin yang disebut tempel selama sekitar 30 menit.

Akan tetapi, jauhnya desa nanga lungu dari pusat kota tidak menghalangi perusahaan kayu untuk menebang di kawasan bersejarah milik suku Suang Silat.

Lokasi itu bernama bukit Antung. Tumenggung Ingsun menjelaskan bahwa asal-usul suku Suang Silat mengaku berasal dari Bukit berada di persatuan antara Sungai Merit dan Sungai Merak.

“itukan identitas kami, jadi harus kami jaga,” ungkap Ingsun.

Kini terancamnya bukit Antung dari perusahaan HPH membuatnya berinisiatif bersama warga untuk menjadikan kawasan di Bukit Antung sebagai hutan desa.

“Kami akan jadikan itu nanti hutan desa, jadi biar terlindungi itu hutan dan bukitnya,” ungkap Ingsun.

Pasalnya, ia menyadari bila alam tidak dijaga dan dibiarkan rusak, maka pada dasarnya manusia sendiri yang nantinya akan mendapatkan hal buruk.

“sekarang itu sudah terasa, air (di sungai) itu seperti Cuma lewat saja, sebentar naik, sebentar lagi sudah turun,” ingsun menjelaskan soal tidak lagi baiknya resapan air akibat penebangan hutan di hulu sungai.