Categories: News Features
Categories: News Features

Share

Peneliti senior Natural Kapital, Thomas Irawan Sihombing (kiri) memberikan pengalaman dan semangat ke tim dan relawan Natural Kapital di kantor YNKI di Pontianak, Jumat, 17 April 2026. (Foto: Mahmudi/Natural Kapital)

Pontianak, naturalkapital.or.id. Kabupaten Kubu Raya (KKR) di Kalimantan Barat menyimpan potensi alam yang luar biasa, sekaligus menghadapi tantangan besar. Untuk menjawabnya, Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) bersama program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan periode 2026-2028, menggandeng tiga desa sebagai percontohan restorasi gambut: Desa Kubu Padi, Pasak Piang, dan Limbung. Lanskap gambut di sini bukan hanya paru-paru bumi, tapi juga rumah bagi ribuan spesies dan sumber kehidupan masyarakat.

“Lanskap Kubu Raya sekitar 859,8 kilometer persegi, kurang lebih 90 persen wilayahnya didominasi ekosistem gambut dan rawa pesisir, terhubung dengan daerah aliran sungai (DAS) Kapuas,” ungkap Thomas Irawan Sihombing, Peneliti Senior YNKI. Kekayaan ini didukung oleh 19 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang mengatur tata air alami, menyimpan karbon, dan melindungi wilayah sekitar dari banjir serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Sayangnya, potensi besar ini terus terancam. Catatan kebakaran skala besar pada tahun 2015 (14.197 ha) dan 2016 (9.729 ha) menjadi bukti nyata kerentanan yang diperburuk oleh praktik ilegal dan konversi lahan. “Degradasi gambut secara langsung meningkatkan risiko bencana iklim, emisi karbon, dan hilangnya sumber penghidupan Masyarakat,” tegas Thomas.

Yuk, kita bedah lebih dalam potensi dan tantangan unik dari tiga “desa percontohan” ini.

🌿 Pesona Tersembunyi Lanskap Kubu Raya.

Sebelum mengenal lebih jauh ketiga desa, penting untuk memahami nilai strategis lanskap Kubu Raya.

Kekayaan Hayati yang Mendunia
Lanskap ini adalah rumah bagi lebih dari 1.382 spesies flora dan fauna (230 spesies tumbuhan dan 1.150 satwa liar). Bahkan, sekitar 22% tumbuhan gambutnya masuk dalam kategori terancam punah (CR, EN, VU), jauh lebih tinggi dibandingkan satwa liar (8%).

Para Penghuni Kritis yang Dilindungi
Beberapa spesies kunci yang menjadi prioritas konservasi, antara lain:

  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Trenggiling (Manis javanica) berstatus Kritis (CR).
  • Macan Dahan (Neofelis diardi), Kucing Merah Kalimantan (Catopuma badia), dan Labi-labi (Pelochelys cantorii) juga terancam punah.
  • Tumbuhan Ramin (Gonystylus bancanus) berstatus kritis, serta Kantong Semar (Nepenthes spp.) yang dilindungi undang-undang.

Kekayaan ini menjadikan Kubu Raya sebagai habitat krusial sekaligus indikator kesehatan lanskap yang rentan terhadap perubahan iklim dan tekanan pembangunan.

Lumbung Pangan dan Harapan Ekonomi
Lanskap gambut Kubu Raya adalah pemasok utama komoditas pangan dan hortikultura bagi Kota Pontianak, seperti padi, jagung, kopi, dan jahe, serta komoditas ekspor seperti kelapa sawit, karet, dan pinang. Tak hanya itu, Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti Cakar Elang dan Akar Bajakah juga menjadi sumber penghidupan penting.


📊 Profil Tiga Desa: Potensi & Tantangan

Ketiga desa ini dipilih karena menjadi representasi dari berbagai kondisi lanskap gambut, mulai dari yang masih memiliki tutupan hutan hingga yang telah terdegradasi parah. Berikut ringkasan profilnya:

DesaLuas (Ha)% Lahan GambutKawasan Hutan (Fungsi)Tutupan HutanDeforestasi (2020-22)Kerentanan Karhutla
Kubu Padi6.14598%Hutan Produksi41%3 haTinggi
Pasak Piang13.568100%Area Perkebunan13%175 haSedang
Limbung5.43770%Area Permukiman0%0 haTinggi

Berikut adalah gambaran lebih detail dari masing-masing desa:

🟢 Desa Kubu Padi: Harapan Konservasi

Dengan tutupan hutan 41% dan tingkat deforestasi yang rendah, desa ini memiliki potensi konservasi yang tinggi. Tantangan utamanya adalah efektivitas pengelolaan Hutan Desa yang masih belum berjalan optimal. YNKI telah menginisiasi pengembangan agroforestri kopi Liberika di sini, termasuk membantu teknologi pascapanen dan akses pasar.

🟡 Desa Pasak Piang: Fokus Agroforestri

Desa dengan 100% lahan gambut ini menghadapi tantangan restorasi paling besar. Tutupan hutannya hanya 13% dan mengalami deforestasi tertinggi (175 ha). Ancaman utamanya adalah kekeringan, banjir, dan kebakaran lahan pertanian. Pendekatan agroforestri menjadi kunci, dan YNKI telah mengintroduksi pertanian regeneratif serta melakukan riset rantai pasok karet di desa ini untuk menjawab tantangan regulasi global seperti EUDR.

🔴 Desa Limbung: Prioritas Restorasi Intensif

Desa ini adalah kasus paling berat. Lahan gambutnya telah terdegradasi luas dengan tutupan hutan 0% , menjadikannya prioritas restorasi intensif. Kerentanan Karhutla sangat tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap kabut asap di Bandara Supadio dan Kota Pontianak. Sebagai modal sosial yang penting, YNKI telah memfasilitasi pembentukan Kelompok Kerja Restorasi Gambut (KKRG) dan mulai memperkenalkan gagasan restorasi gambut berbasis desa. Limbung juga merupakan sentra Industri Rumah Tangga (IRT) yang potensial, namun belum terintegrasi dengan perencanaan lahan gambut berkelanjutan.


🧭 Strategi YNKI: Menjawab Kompleksitas dengan Pendekatan Lanskap

Berangkat dari kompleksitas ini, program YNKI bersama TFCA Kalimantan menolak pendekatan sektoral atau proyek jangka pendek. “Pendekatan sektoral atau proyek jangka pendek, tidak memadai untuk menjawab kompleksitas ini. Oleh karena itu, kegiatan YNKI Bersama TFCA Kalimantan ini memilih pendekatan partisipatif, peningkatan kapasitas, dan penguatan kelembagaan desa, sebagai fondasi utama,” tegas Thomas.

Pendekatan lanskap yang diusung YNKI mencakup empat pilar utama:

  1. Memperkuat Tata Kelola: Menyusun tata guna lahan desa terintegrasi mitigasi-adaptasi.
  2. Membangun Data dan Insentif: Membangun baseline emisi dan zona mitigasi, serta platform “Dashboard Emisi dan Zona Mitigasi Desa” untuk mengakses berbagai peluang pendanaan iklim.
  3. Aksi Restorasi dan Ekonomi: Melakukan restorasi gambut sekaligus mengembangkan mata pencaharian masyarakat.
  4. Melindungi Spesies Kunci: Memprioritaskan konservasi spesies terancam punah seperti Orangutan.

Dengan strategi ini, YNKI dan TFCA Kalimantan berupaya mengisi kesenjangan yang ada, memperkuat ketahanan desa gambut, serta berkontribusi pada target iklim nasional (NDC) dan pembangunan berkelanjutan (SDGs).


Penulis: Mahmudi
Editor: Anas Nasrullah