Categories: News Features
Tim YNKI

Tim YNKI (dari kiri ke kanan), Lilin Dwi Evelin, Putri Lestari, Haryono, Yuliantini, Suhardani Hendri Sukri, Dwi Anggradini Putri (tidak nampak di kamera), Zulfa Laylia Hauro, dan Syamsul Rusdi dalam diskusi di kantor YNKI di Pontianak, Selasa, 5 Mei 2026. (Foto: Mahmudi/Natural Kapital)

Kubu Raya, naturalkapital.or.id. Di balik rimbunnya vegetasi hutan rawa gambut Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, tumbuh secuil tanaman liar yang akrab di telinga masyarakat setempat. Tanaman rambat ini dikenal dengan segudang nama: cakar elang, kait-kait, bulangkait, atau belangkait. Namun, di balik kekayaan nama lokalnya, tanaman ini menyimpan misteri: identitas ilmiahnya belum tercatat sebagai spesies resmi dalam botani internasional.

“Warga desa Kubu Raya cukup heterogen. Akhirnya banyak istilah untuk menyebut tanaman rambat di rawa gambut, cakar elang. Misalnya warga di perbukitan-pegunungan menyebutnya cakar elang atau kait-kait, kaum pesisir-kepulauan menyebutnya bulangkait yang ketika dibaca cepat menjadi belangkait,” jelas Lilin Dwi Evelin, Kepala Divisi Komunikasi Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI), di ruang kerjanya di Pontianak, Senin (4/5/2026).


🌿 Ciri Khas: Kait Tajam dan Kemampuan Memanjat

Nama-nama itu muncul bukan tanpa alasan. Semuanya merujuk pada bentuk kait pada bagian ruas batang atau tangkai tanaman yang melengkung tajam, menyerupai cakar burung elang. Kait inilah yang membantu tanaman memanjat dan bertahan di tengah rapatnya semak serta pepohonan hutan tropis yang lembap.

“Tanaman ini tumbuh diam-diam di kawasan rawa, menjalar mengikuti batang pohon lain untuk mencari cahaya. Pada beberapa desa sekitar gambut, cakar elang bukan tumbuhan asing,” tambah Lilin, yang juga pernah aktif di Gerakan Mahasiswa Pencinta Alam Cagar Gaspasi, Universitas PGRI Pontianak.

Bagi warga yang terbiasa masuk hutan, tanaman ini bukan sekadar tumbuhan liar. Ia adalah bagian dari pengetahuan obat tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.


💊 Khasiat Obat Tradisional yang Dipercaya Turun-Temurun

Meskipun belum banyak diteliti secara ilmiah, cakar elang cukup dikenal dalam praktik pengobatan rumahan masyarakat.

“Sebagian warga memanfaatkan batang atau akar cakar elang dengan cara direbus. Air rebusannya dipercaya membantu menjaga stamina tubuh, mengurangi pegal setelah bekerja, serta membantu pemulihan tenaga,” tutur Lilin.

Pengetahuan ini, jelasnya, tidak berasal dari laboratorium modern, melainkan dari pengalaman panjang masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan. Banyak komunitas pedalaman dan pesisir gambut mewariskan pengetahuan tentang tanaman obat secara lisan, melalui cerita keluarga, kebiasaan, dan pengalaman sehari-hari.


🌏 Ekosistem Gambut dan Keberadaan Cakar Elang

Keberadaan cakar elang tidak bisa dipisahkan dari kondisi ekosistem gambut itu sendiri.

“Tanaman ini umumnya tumbuh di kawasan yang masih basah, teduh, dan memiliki tutupan vegetasi yang cukup baik,” papar Lilin.

Ketika gambut mulai mengering akibat pembukaan lahan, kebakaran, atau perubahan tata air, tumbuhan-tumbuhan liar seperti cakar elang perlahan ikut menghilang. Karena itu, bagi sebagian warga lokal, keberadaan tanaman ini sering dianggap sebagai tanda bahwa hutan gambut masih “hidup”.

“Warga Kubu Raya banyak yang meyakini, jika masih ada tanaman cakar elang, tanda jika hutan gambut masih ada,” tegas Lilin.


🔬 Misteri Identitas Ilmiah: “Katenis Ligni” Belum Diakui Dunia

Secara botani, identitas ilmiah cakar elang masih belum sepenuhnya jelas. Sejumlah pengamat menduga tanaman ini memiliki kedekatan dengan kelompok rotan liar atau palma pemanjat tropis yang banyak ditemukan di Kubu Raya. Ciri khas berupa kait atau cakar yang digunakan untuk memanjat menjadi petunjuk penting dalam pengenalannya.

Namun, hingga kini, nama lokal seperti “Katenis ligni” belum tercatat sebagai nama spesies resmi dalam basis data botani internasional.

“Ketidakjelasan nama ilmiah ini tidak mengurangi makna tanaman ini di mata masyarakat. Bagi warga yang hidup dekat dengan hutan, cakar elang bukan sekadar objek penelitian, melainkan bagian dari pengetahuan lokal yang membantu mereka bertahan hidup,” timpal Lilin.


🌱 Simbol Hubungan Manusia dan Alam yang Terancam Punah

Lilin menegaskan bahwa cakar elang bukan sekadar tanaman obat.

“Cakar elang menjadi simbol hubungan yang erat antara manusia dan alam, terutama di wilayah gambut yang selama ini sering dipandang hanya sebagai lahan kosong.”

Namun, semakin menyusutnya kawasan hutan rawa gambut, keberadaan tanaman seperti cakar elang menjadi pengingat bahwa masih banyak kekayaan hayati dan pengetahuan tradisional yang belum sepenuhnya dikenal.

“Jika habitatnya terus hilang, bukan hanya tumbuhannya yang terancam lenyap, tetapi juga cerita, pengalaman, dan warisan pengetahuan masyarakat yang selama ini tumbuh bersama hutan,” pungkas Lilin.


Penulis: Mahmudi
Editor: Anas Nasrullah

cakar elang
Tanaman rambat gambut Cakar Elang atau Bulangkait atau Belangkait atau Kait-kait yang menjadi tanda hutan gambut masih ada. (Ilustrator: Zulkifli HZ/Natural Kapital)