
(Dari kiri ke kanan) Syamsul Rusdi, Suhardani Hendri Sukri, Rohman, Adrianus, M Yasin, dan Kades Pasak Piang, Surip di kantor desa Pasak Piang, Ambawang, KKR, Kalbar, Rabu, 29 April 2026. (Foto: Zukifli HZ/Natural Kapital)
Kubu Raya, naturalkapital.or.id. Kabar gembira datang untuk Desa Pasak Piang, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya (KKR), Kalimantan Barat. Tim Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) berkunjung ke Pemerintah Desa (Pemdes) Pasak Piang pada Rabu (29/4/2026) untuk menyampaikan bahwa desa tersebut terpilih sebagai salah satu lokasi program TFCA Kalimantan.
“Kami dari tim YNKI berkunjung ke Pemdes Pasak Piang, menyampaikan jika desa ini masuk ke dalam program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan. Insyaallah programnya selama dua tahun ke depan, dimulai April 2026 sampai Maret 2028,” ujar Suhardani Hendri Sukri (Dani), didampingi tim YNKI lainnya, Syamsul Rusdi dan Zulkifli HZ.
Kunjungan ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kolaborasi antara YNKI dan Pemerintah Desa Pasak Piang untuk program bertajuk “Penguatan Mitigasi dan Adaptasi Iklim Desa Gambut Kabupaten Kubu Raya” , yang dioperatori oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) Jakarta.
🌱 Desa dengan Pengalaman Restorasi Gambut
Desa Pasak Piang bukanlah pemain baru dalam pengelolaan lahan gambut. Sebelumnya, desa ini pernah menjadi bagian dari program Badan Restorasi Gambut (BRG) , yang kemudian berubah menjadi BRGM (Badan Restorasi Gambut dan Mangrove) hingga dibubarkan pada tahun 2025.
“Pemerintah memang sudah membubarkan BRGM. Tahun 2025, restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove dipecah ke Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Kementerian Lingkungan Hidup (LH), dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), “ jelas Dani.
Pengalaman ini menjadi modal penting bagi Desa Pasak Piang dalam menyambut program TFCA Kalimantan. Data dan pembelajaran dari program sebelumnya akan diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) KKR yang saat ini masih disusun.
🤝 Sambutan Hangat dari Pemerintah Desa
Kepala Desa Pasak Piang, Surip, S.Pd. , menyambut baik kedatangan tim YNKI dan kabar gembira tersebut. Ia didampingi oleh Sekretaris Desa M. Yasin, serta warga desa Rohman (Pemuda Pelopor Kubu Raya 2024) dan Adrianus.
“Saya mewakili warga desa, mengucapkan terima kasih atas kedatangan tim YNKI ke desa kami. Semoga amal baik kita bersama ini diberikan jalan yang baik dari Tuhan Yang Maha Esa,” doa Kades Surip.
Rohman, yang ditemui tim YNKI dalam perjalanan menuju kantor desa, juga merupakan petani kopi yang aktif dan menjadi simbol semangat pemuda desa dalam mengembangkan potensi lahan gambut.
🌾 Potensi dan Tantangan Desa Pasak Piang
Kades Surip memaparkan bahwa Desa Pasak Piang masih memiliki sisa-sisa hutan dan potensi pertanian yang cukup beragam.
“Potensi desa ini memiliki ubi kayu dan talas. Masih ada sawah, walaupun tidak sebanyak di zaman dulu,” ungkapnya.
Namun, desa ini juga menghadapi tantangan besar. Sebagian besar wilayahnya berada di dalam konsesi perkebunan sawit, yaitu PT Pinang Witmas Abadi (PWA) dan PT Graha Agro Nusantara (GAN) . Akibatnya, sebagian besar warga desa bekerja di perusahaan sawit.
“Keadaan ini membuat sebagian besar warga desa kami bekerja di perusahaan sawit. Sedikit sekali kaum muda yang minat bekerja di sawah dan ladang,” keluh Kades Surip.
Hal ini juga berdampak pada partisipasi warga dalam kegiatan desa. Pemdes Pasak Piang sudah menyampaikan fenomena ini ke Pemkab Kubu Raya dan Pemprov Kalbar: kegiatan yang mudah dihadiri banyak warga hanya bisa dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu, karena hari kerja warga padat.
“Kita juga sudah menyampaikan fenomena di desa kami ke Pemkab Kubu Raya dan Pemprov Kalbar, kalau bikin kegiatan yang mudah dihadiri banyak warga desa, ya hari Sabtu dan Minggu. Akan tetapi kalau Minggu, kita menghargai saudara kita non-Muslim untuk beribadah,” timpal Kades Surip.
🌍 Harapan untuk Program Dua Tahun ke Depan
Kades Surip berharap program TFCA Kalimantan yang dijalankan YNKI dapat memberikan dampak positif bagi desanya, terutama dalam penguatan ekonomi warga di tengah dominasi perkebunan sawit dan pelestarian sisa-sisa hutan yang masih ada.
Program ini diharapkan dapat membuka peluang bagi pengembangan pertanian berkelanjutan, agroforestri, dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga tanpa harus bergantung sepenuhnya pada perkebunan sawit.
Penulis: Mahmudi
Editor: Anas Nasrullah
