Share

Program Manager YNKI-Kehati, Putri Lestari (tengah), didampingi Kadiv Keuangan YNKI Dwi Anggradini Putri (kiri) dan Bagian Supplay Chain & Sustainable Forest Management GIZ Kalbar Adi Rahmat (kanan) di Musrembang RKPD Kubu Raya, bertempat di Aula Praja Utama Kantor Bupati Kubu Raya, Kamis, 2 April 2026. (Foto dokumen YNKI)
Di tengah hamparan lahan gambut yang sebagian besar masih belum termanfaatkan secara optimal, Desa Limbung menyimpan secercah kisah sukses yang menginspirasi. Ceritanya bermula dari seorang warga yang biasa dipanggil Pak Acui. Beliaulah satu-satunya pekebun yang membuktikan bahwa lahan gambut yang kering dan kritis sekalipun bisa memberi keuntungan ekonomi berlipat ganda. Hasilnya? Kini, 200 pohon jambu metenya mampu menembus pasar hingga ke luar negeri.
*”Lahan gambut di desa kita juga sudah mulai ada pekebun jambu mete untuk diambil kacang mete-nya. Pekebunnya orang Tionghoa, panggilannya Pak Acui, beliau saat ini memiliki 200 buah jambu mete,” ungkap Kepala Desa Limbung, Wiyono, di ruang kerjanya, Rabu (29/4/2026).
🌱 Pak Acui: Pionir di Lahan yang Kurang Dirawat
Awal mula, Pak Acui hanyalah seorang pekebun kecil yang hanya menanam kurang dari sepuluh pohon jambu mete. Saat itu, kacang mete dianggap sebagai komoditas yang kurang prospek. Warga sekitarnya pun enggan ikut menanam. Alasan utamanya adalah waktu tunggu yang cukup lama hingga pohon berbuah, dan secara perhitungan ekonomi dianggap kurang menguntungkan.
“Zaman dulu, kegigihan Pak Acui menanam dan merawat jambu mete, tidak diikuti warga desa lainnya, sebab secara perhitungan ekonomi kurang menguntungkan. Ditambah menunggu waktu cukup lama untuk berbuah,” kenang Kades Wiyono.
Selain itu, warga Pontianak dan Kalimantan Barat pada umumnya saat itu hanya mengonsumsi kacang mente sekali dalam setahun, yakni ketika hari raya Idul Fitri. Namun, perubahan zaman dan pola konsumsi masyarakat perlahan mengubah nasib Pak Acui.
📈 Permintaan Melonjak: Dari Lokal hingga Mancanegara
Memasuki tahun 2026, permintaan kacang mete meningkat drastis. Tidak hanya dari dalam Provinsi Kalimantan Barat, tetapi juga dari Pulau Jawa dan hingga pembeli mancanegara yang kebetulan bertandang ke desanya. Kacang mete perlahan-lahan bertransformasi dari camilan eksklusif saat Lebaran menjadi menu sajian di berbagai hari besar, termasuk Imlek dan perayaan lainnya.
“Akhirnya Pak Acui dapat menikmati hasil dari jerih payahnya selama ini. Kini ada 200 batang jambu mete. Beliau enggan menambah pohon karena sudah lebih dari cukup untuk keluarganya,” dalih Kades Wiyono.
Kesuksesan Pak Acui menjadi bukti nyata bahwa keberanian dan ketekunan membuahkan hasil. Ia telah menuai panen saat pohon-pohon metenya mencapai usia produktif dan pasar mulai terbuka lebar.
🌿 Jambu Mete: Tanaman Rehabilitasi Lahan Kritis Era Pelita I
Mengapa jambu mete mampu bertahan dan tumbuh subur di lahan gambut yang panas dan asam? Jawabannya terletak pada sejarah panjang tanaman ini.
“Pantaslah cocok di lahan gambut,” kata Kades Wiyono.
Ternyata, jambu mete sudah mulai dikembangkan pemerintah pusat ke dalam program pembangunan lima tahun (Pelita) I pada masa khidmat 1969-1974. Saat itu, pohon jambu mete dipilih secara khusus sebagai tanaman penahan erosi kawasan pesisir yang memiliki tingkat salinitas (kadar garam) tinggi. Selain itu, fungsi utamanya adalah untuk merehabilitasi lahan kritis. Pohon ini tangguh, mampu tumbuh di tanah dengan tingkat kesuburan sedang, dan perawatannya tidak merepotkan.
Kondisi inilah yang membuat jambu mete relatif mampu beradaptasi dengan baik di lahan gambut Desa Limbung. Kesesuaian historis ini menjadikan jambu mete sebagai salah satu komoditas yang paling potensial untuk dikembangkan di ekosistem gambut yang terdegradasi.
💪 Manfaat Kesehatan: Lebih dari Sekadar Camilan
Selain nilai ekonominya, kacang mete juga menyimpan segudang manfaat bagi kesehatan. Dikutip dari jurnal The American Journal of Clinical Nutrition (2023) berjudul “Frequent Nut Consumption and Decreased Risk of Cholecystectomy in Women”, mengonsumsi kacang mete secara teratur dapat memberikan 11 manfaat kesehatan bagi tubuh, antara lain:
- Menurunkan berat badan dan cocok untuk diet sehat.
- Menyehatkan kantung empedu serta mencegah penyakit batu empedu.
- Mengoptimalkan fungsi jantung dan mengontrol kolesterol.
- Mengontrol kadar gula darah, baik untuk penderita diabetes.
- Mencegah kekurangan nutrisi tembaga serta menyehatkan tulang.
- Mencegah stroke, menyehatkan mata, dan menyehatkan otak.
Dengan segudang manfaat ini, tidak mengherankan jika permintaan kacang mete terus melonjak.
🤝 Sinergi dengan Program TFCA-YNKI
Kesuksesan Pak Acui tidak hanya menjadi catatan tersendiri, tetapi juga sejalan dengan semangat program TFCA Kalimantan yang dijalankan YNKI. Program restorasi gambut yang berfokus pada penguatan ekonomi warga melalui agroforestri sangat relevan dengan potensi jambu mete ini.
Sebagai salah satu tanaman yang mampu tumbuh di lahan gambut kering dan terdegradasi, jambu mete dapat menjadi pilihan komoditas alternatif selain kopi Liberika yang sudah lebih dulu diusulkan. Tanaman ini tidak memerlukan perawatan intensif, pohonnya bisa menjadi penghijauan, dan kacangnya bernilai jual tinggi.
“Saya juga mau minta tolong ke rekan YNKI, kalau bisa ada program penghijauan di pinggir-pinggir jalan utama desa kami. Silakan menggunakan tanaman khas lahan gambut. Boleh juga pakai pohon sukun,” harap Kades Wiyono.
Ia menambahkan bahwa sukun merupakan program ketahanan pangan unggulan dari Pemprov Kalbar dan Pemkab Kubu Raya, yang dikenal dengan program diversifikasi pangan. Sukun, seperti halnya jambu mete, adalah tanaman serbaguna yang kaya karbohidrat dan bisa diolah menjadi berbagai camilan.
🌏 Menatap Masa Depan
Kisah Pak Acui hanyalah secuil contoh kecil dari potensi besar yang dimiliki lahan gambut Desa Limbung. Dengan dukungan program pendampingan yang tepat, tidak menutup kemungkinan kacang mete asli Desa Limbung akan menjadi primadona baru di pasar domestik hingga mancanegara, sekaligus menjadi solusi rehabilitasi lahan kritis dan peningkatan ekonomi warga.
Penulis: Mahmudi
Editor: Thomas Irawan Sihombing
