Share

Kades Limbung (Kubu Raya), Wiyono. (Foto: Yuliantini/Natural Kapital)
Kubu Raya, naturalkapital.or.id. Pemerintah Desa (Pemdes) Limbung menyambut baik dimulainya program Penguatan Mitigasi dan Adaptasi Iklim Desa Gambut di wilayahnya. Apalagi, lahan Desa Limbung yang mayoritas gambut ini rentan dilanda kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) setiap tahun.
“Saya mewakili Pemdes Limbung dan warga desa kami, menyambut baik program ini. Kami akan sangat terbantu dengan hadirnya program TFCA (Tropical Forest Conservation Act) yang dioperatori Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati), kemudian dilaksanakan oleh YNKI di desa kita ini,” kata Wiyono, Kepala Desa Limbung, kepada tim YNKI di ruang kerjanya, Rabu (29/4/2026).
🔥 Desa Gambut yang Rentan Karhutla
Kepala Desa Wiyono membenarkan kajian tim YNKI bahwa pada masa lalu, Desa Limbung pernah menjadi bagian penting dari rantai pasok beras kopi di Kalimantan Barat. Namun, kondisi kini sangat berbeda. Hanya sedikit warga yang masih memiliki kebun kopi.
Penyebab utamanya adalah kebakaran lahan gambut yang terjadi berulang kali selama puluhan tahun. “Desa kita masih memiliki lahan sawah tapi sudah menyempit karena ekspansi bisnis properti untuk kawasan hunian warga. Ada perkebunan kelapa, hortikultura, dan kopi, walau semakin sedikit karena ditinggalkan pekebun,” papar Wiyono. “Ya, banyak kebun kopi terbakar karena lahan gambut memang mudah terbakar.”
☕ Kopi Liberika: Tanaman yang Paling Cocok
Wiyono sepakat dengan kajian tim YNKI bahwa kopi jenis Liberika memang paling cocok ditanam di lahan gambut yang panas. “Kalau kopi Robusta dan Arabika, seperti yang ada di kebun kopi Sumatera dan Jawa, itu ada pohon pelindungnya supaya tidak kena panas matahari terus-menerus. Biasanya juga ditanam di tempat yang tinggi. Daerah kita di dataran rendah, jadi Liberika yang cocok.”
Ia berharap program ini tidak hanya memberikan bibit, tetapi juga pelatihan dari perawatan hingga pascapanen. “Pekebun kopi di desa kita tidak semuanya punya akses ke pasar,” timpalnya.
💰 Harga Kopi Liberika yang Menggembirakan
Kabar baik lainnya adalah nilai jual kopi Liberika yang tergolong tinggi. “Saat ini, beras kopi Liberika lebih mahal dibandingkan beras kopi Robusta di pangsa pasar kota Pontianak. Kisarannya Rp120 ribu per kilo. Ini kabar cukup menggembirakan bagi kami, warga desa Limbung yang ingin mengembalikan kejayaan beras kopi desa Limbung,” tegas Wiyono.
🌿 Ekonomi Hijau dari Zaman Dulu
Di sela-sela perbincangan, Wiyono mengenang masa kecilnya di Desa Limbung. Dahulu, keluarganya memiliki kebun kopi, begitu pula warga desa lainnya.
“Ketika ayah bekerja di sawah dan ladang, saya mendampingi ibu, bersama ibu-ibu lain di desa Limbung, membawa karung berisi beras kopi. Dijual di jalan Tanjungpura Pontianak, seingat saya namanya perusahaan daerah (PD) Obor,” kenangnya.
Setelah mendapatkan uang, sebelum pulang, karung beras kopi itu diganti isinya dengan bahan makanan pokok atau perkakas pertanian dan rumah tangga. Kaum ibu di desanya, di zaman dulu, sudah menggalakkan ekonomi hijau—ramah lingkungan sekaligus membantu ekonomi keluarga hingga bisa menyekolahkan anak-anak ke perguruan tinggi.
☕ Kafe di Rooftop Kantor Desa
Wiyono juga memiliki mimpi besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) Limbung. Ia ingin bekerja sama dengan waralaba (franchise) kafe. Alasannya, Desa Limbung adalah tuan rumah Bandara Internasional Supadio dan berpotensi menjadi desa destinasi wisata.
“Saya sebenarnya mau buka kafe dengan sajian menu utama kopi lokal di rooftop kantor desa. Tentu supaya pengelolaannya terpercaya dan terukur laba-ruginya, kita gandeng pelaku usaha profesional kafe,” ungkapnya.
🤝 Harapan untuk Program Dua Tahun ke Depan
Wiyono berharap kerja sama selama dua tahun ke depan (April 2026–Maret 2028) antara program TFCA Kalimantan-YNKI dengan Pemdes Limbung, Pemkab Kubu Raya, dan Pemprov Kalbar dapat berhasil dan bermanfaat untuk semua.
“Berhasil programnya dan sejahtera juga warga desanya,” doanya.
Ia juga mengapresiasi program ini yang tidak hanya berorientasi pada proyek jangka pendek. “Kita ingin kegiatan di desa semarak dan berkelanjutan, bukan orientasi proyek selesai maka selesai juga kegiatannya. Apalagi saya baca dari selayang pandang program TFCA Kalimantan ini, ada penguatan ekonomi warga desa di lahan gambut. Misalnya agroforestri, penguatan kelembagaan warga desa, pembangunan rumah semai benih, dukungan masyarakat peduli api (MPA), hingga bantuan bibit.”
Penulis: Mahmudi
Editor: Haryono
