Share

Program Manager YNKI-Kehati, Putri Lestari (kanan), didampingi staf Komunikasi YNKI, Mahmudi (kiri) helat kunjungan kerja ke Pemerintah Desa Limbung di desa Limbung, Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu, 29 April 2026. (Fotografer: Yuliantini/Natural Kapital)
Sebuah kisah tentang negeri yang namanya saja diberikan oleh orang asing
Oleh: Putri Lestari (Program Manager YNKI-Kehati)
π¬ Pembuka: Bayangkan Kamu Lahir di Persimpangan, Tapi Tak Pernah Boleh Punya Rumah
Coba bayangkan: kamu punya rumah di perempatan paling ramai di kota. Setiap hari, truk, bus, dan mobil mewah lewat di depan pintumu. Semua orang ingin berhenti di rumahmuβuntuk istirahat, mengambil jalur pintas, atau sekadar memantau lalu lintas. Tapi tidak ada yang benar-benar ingin tinggal bersamamu. Mereka datang, mengambil apa yang mereka butuhkan, lalu pergi. Rumahmu rusak, tapi mereka bilang itu “harga dari tinggal di lokasi strategis.”
Itulah Suriah.
Selama lebih dari 2.500 tahun, negeri ini tak pernah benar-benar menjadi milik rakyatnya sendiri. Bahkan namanya β “Suriah” β adalah pemberian dari orang Yunani kuno yang salah mengartikan nama Asyur. Penduduk aslinya lebih suka menyebutnya Aram atau Bilad al-Sham. Tapi siapa yang mendengarkan? Yang mendengarkan justru para penjajah: Romawi, Ottoman, Prancis, dan kini para aktor global dalam perang dingin versi terbaru.
Setelah rezim Bashar al-Assad runtuh pada Desember 2024, Suriah punya presiden baru: Ahmed al-Sharaa, mantan panglima HTS yang dulu dianggap teroris oleh Barat, kini diajak ngobrol di Gedung Putih. Dunia berputar cepat. Tapi pertanyaannya tetap sama: Apakah Suriah kali ini benar-benar akan menjadi milik warga Suriah? Atau hanya berganti “tuan”?
Artikel ini akan membedah empat luka yang membuat Suriah terus berdarah. Bukan dengan bahasa rumit, tapi seperti kita lagi ngobrol sambil ngopi. Siap? Yuk, mulai.
π©Έ Luka Pertama: Geopolitik β “Sayang, Kamu Terlalu Strategis”
Suriah tidak pernah memilih posisinya. Ia terletak di mana tiga benua (Asia, Afrika, Eropa) bertemu. Laut Tengah ada di barat. Jalur minyak dan gas dari Teluk ke Eropa melewati sini. Pantai timur Mediterania adalah pintu gerbang alami. Singkatnya: siapa yang kuasai Suriah, dia pegang kendali setengah Timur Tengah.
π₯ Yang terjadi setelah Assad jatuh (2024β2026)
Bayangkan sebuah papan catur. Bijinya bergerak terus:
- Rusia: Si bos lama yang sekarang gigit jari. Pangkalan udara Khmeimim dan pelabuhan Tartus masih mereka pegang, tapi posisi tawar Presiden Putin meleleh. Presiden al-Sharaa malah bilang pangkalan Rusia akan diubah jadi pusat latihan tentara Suriah. Baca selengkapnya β Waduh, Rusia kena “pagar makan tanaman”?
- Iran: Jatuh paling keras. Teheran dulu punya milisi asing di mana-mana. Sekarang? Pemerintah baru Suriah secara terbuka menjadikan “membatasi pengaruh Iran” sebagai kebijakan utama. Simak analisisnya
- Turki: Naik daun. Dengan sekitar 20.000 tentara di Suriah utara, Ankara punya suara paling keras. Bahkan, para analis bilang: “Front utara Suriah bergantung pada kebijakan Ankara.” Baca DW
- Amerika Serikat: Tadinya mendukung pemberontak, sekarang malah ngobrol manis dengan al-Sharaa. Presiden transisi Suriah bahkan diundang ke Gedung Putih November 2025 β pertama kalinya dalam 80 tahun! Cek di ABC News
- Negara-negara Teluk: Liga Arab memeluk Suriah lagi setelah 12 tahun dibekukan. Arab Saudi dan UEA buka kedutaan. Tapi Qatar masih cemberut. Baca di CGTN
Intinya: Suriah terus jadi “piala bergilir” negara adidaya. Kasihan.
π©Έ Luka Kedua: Sektarianisme β “Kamu Sunni, Saya Alawi, Kita Musuhan?”
Sebelum perang, Suriah seperti kue lapis legit: Sunni (70-75%), Alawi (12%), Kristen (10%), Kurdi (10-15%), Druze (3%), plus lainnya. Hidup damai? Ya, relatif. Tapi di bawah permukaan, rezim Assad sengaja memelihara politik identitas sebagai alat kontrol.
π Bagaimana cara kerjanya?
- Hafez dan Bashar al-Assad, yang berasal dari minoritas Alawi, membangun negara keamanan di mana loyalitas kepada keluarga Assad lebih penting daripada kewarganegaraan.
- Militer didominasi Alawi. Jabatan tinggi diisi dari jaringan keluarga dan sekte.
- Rakyat Sunni diajari: “Kami (Alawi) yang melindungi kalian dari ekstremis.” Sementara Alawi diajari: “Mereka (Sunni) akan membantai kita jika berkuasa.”
Hasilnya? Paranoid massal.
π± Setelah Assad runtuh: Ketakutan yang belum reda
Sekarang, kelompok yang berkuasa di Damaskus adalah HTS pimpinan al-Sharaa β yang dulu adalah faksi jihadis beraliran Sunni. Ironi pahit: Mereka yang dulu ditakuti minoritas Alawi, kini memegang kendali atas nasib minoritas itu.
Hingga April 2026, wilayah pesisir yang didominasi Alawi masih rapuh. Kekhawatiran pembalasan sektarian tinggi. Pada Maret 2025, lebih dari 1.400 warga sipil yang didominasi Alawi tewas dalam kekerasan yang diduga serangan balas dendam.
Sementara itu, di Aleppo, pada Januari 2026, pemerintah menyatakan operasi militer “hanya untuk keamanan.” Tapi di balik layar, itu adalah perebutan antara faksi pro-Turki, sisa loyalis Assad, dan kelompok lokal yang tak puas. Baca detail di DW
Pelajaran menyedihkan: Sektarianisme bukan warisan kuno. Ia adalah teknologi kekuasaan yang diciptakan Prancis (1919-1946), disempurnakan Assad, lalu dieksploitasi Iran dan Arab Saudi. Sekarang, pemerintah transisi yang dulu sektarian terpaksa jadi tukang damai. Semoga berhasil.
π©Έ Luka Ketiga: Divide et Impera β “Warisan Prancis yang Tak Pernah Mati”
Prancis hanya menjajah Suriah selama 26 tahun (1920-1946). Tapi strategi “pecah belah dan kuasai” -nya masih hidup β bahkan subur β hingga 2026.
ποΈ Apa yang dilakukan Prancis?
- Merekrut minoritas (Alawi, Druze, Kristen) menjadi perwira militer dan pegawai negeri. Sementara mayoritas Sunni yang nasionalis dijauhkan dari kekuasaan.
- Memecah Suriah menjadi negara-negara kecil (Damaskus, Aleppo, Negara Alawi, Jabal Druze, dll) untuk mencegah persatuan.
- Menanamkan rasa curiga bahwa minoritas tidak akan aman jika Sunni berkuasa.
π Efeknya hingga sekarang: Kasus Kurdi dan Kamp Al-Hol
Kurdi: Mereka membangun otonomi semi-merdeka di timur laut selama perang saudara. Tapi sekarang, di bawah tekanan Turki melalui HTS, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi dipaksa menandatangani perjanjian 14 poin β menyerahkan kendali ladang minyak dan wilayah ke Damaskus.
Seorang analis dari JINSA berkata: “Ini pengaturan yang dipaksakan. Damaskus menyebutnya reunifikasi nasional; Kurdi menyebutnya penyerahan paksa.” Baca analisis lengkapnya
Kamp Al-Hol: Dulu simbol kekejaman ISIS. Pada puncaknya (2019), lebih dari 76.000 orang β termasuk keluarga pejuang ISIS dari 42 negara β ditahan di sini. Kamp dikelola oleh SDF yang didukung AS.
Pada 21 Januari 2026, pemerintah Suriah merebut kendali kamp. Laporan menyebutkan pelarian massal terjadi saat pertempuran. Liputan6 mengabarkan tentang kekacauan itu.
Akhirnya, pada 25 Februari 2026, Al-Hol ditutup. Baca pengumuman resmi. Tapi penutupan bukan akhir cerita. Puluhan ribu wanita dan anak-anak kembali ke negara asal mereka β atau lenyap ke dalam ketidakpastian. Dokter Lintas Batas melaporkan bahwa mereka menghadapi masa depan yang tidak jelas.
Warisan divide et impera: Prancis pergi, tapi cara berpikir “pecah belah” tetap menjadi software default politik Suriah. Kasihan.
π©Έ Luka Keempat: Perang Dingin Timur-Barat β “Musim 2, Aktor Baru”
Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet selesai pada 1991. Tapi di Suriah, musim keduanya lagi seru-seruan β dengan pemain yang sedikit berbeda.
π·πΊ Rusia: “Kami tidak akan pergi, tapi kami tidak lagi jadi bos”
Rusia ingin mempertahankan pangkalan udara Khmeimim dan fasilitas angkatan laut di Tartus β satu-satunya akses mereka ke Laut Tengah. Pada Januari 2026, Putin mengundang al-Sharaa untuk berunding. Tapi hasilnya? Al-Sharaa malah bilang pangkalan Rusia akan diubah jadi pusat latihan tentara Suriah. Baca di Militarnyi.
Sementara itu, laporan Reuters (24 Maret 2026) mengatakan Rusia belum benar-benar pergi β hanya posisinya melemah. Simak di Militarnyi.
πΊπ¦ Ukraina: Mumpung Rusia lemah, kita tembaki dari belakang
Pada April 2026, seorang pejabat Ukraina menyatakan: “Mengembangkan hubungan keamanan dan ekonomi dengan Suriah akan membantu Ukraina membatasi pengaruh Rusia di Timur Tengah.” Baca di English NV. Uhuk, perang proksi pindah ke Suriah.
πΊπΈπͺπΊ Barat: Dari “musuh” jadi “sahabat karib” dalam setahun
Perubahan paling dramatis: Barat merangkul al-Sharaa. Sanksi dicabut. Diplomasi dipulihkan. Presiden Suriah diundang ke Washington (November 2025) β kali pertama dalam hampir delapan dekade. ABC News melaporkan.
Bahkan Prancis β mantan penjajah β sekarang telepon-teleponan dengan al-Sharaa membahas rekonstruksi. Baca di UK Parliament Commons Library.
Kritik mengatakan ini “pengkhianatan nilai-nilai demokrasi.” Pendukung bilang “realpolitik.” Tapi dari perspektif budaya: Kekuatan besar tidak peduli masa lalu seseorang β yang penting adalah posisi strategis dan stabilitas.
π Perebutan pengaruh di dunia Arab
Liga Arab menyambut kembali Suriah. Tapi belum semua negara sepakat. UEA dan Saudi buka kedutaan. Qatar masih menjaga jarak. Baca di Zamanalwsl.
Ironi: Negara Teluk yang dulu mendanai pemberontak β sekarang merangkul Damaskus. Sementara Iran dan Rusia β yang dulu mendukung Assad β jadi korban terisolasi. Perang dingin tidak pernah berakhir, hanya ganti skenario.
π Kondisi Terkini: Antara Puing dan Harapan
Hingga April 2026, Suriah adalah negeri paradoks. Data ngomong begitu:
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Orang butuh makanan | 13 juta |
| Orang butuh air bersih | 12 juta |
| Orang butuh layanan kesehatan | ~13 juta |
| Biaya rekonstruksi | US$ 216 miliar |
| Pendanaan bantuan PBB | Baru 15% terpenuhi |
| Hibah Bank Dunia | US225 juta untuk air & kesehatan, plus US50 juta untuk transportasi |
| Sumber: UN OCHA 22 April 2026, World Bank 23 April 2026, Arab News Japan 20 April 2026 | |
ποΈ Upaya yang berjalan:
- Pemulihan pasca-gempa (Februari 2023): ILO menciptakan lapangan kerja di Aleppo untuk perbaikan infrastruktur. Baca di ILO
- White Helmets (didukung Giro555 & Cordaid) memulihkan 21 fasilitas medis. Simak di EpiNews
- Dialog rekonsiliasi nasional: Para analis menyerukan Suriah terdesentralisasi yang memberi ruang setara bagi semua komunitas. Baca Washington Institute
ποΈ Penutup: Akankah Suriah Akhirnya Menjadi Milik Warga Suriah?
Kita kembali ke pertanyaan awal: Setelah 2.500 tahun menjadi objek, bisakah Suriah menjadi subjek sejarahnya sendiri?
Sejarah menjawab: tidak mudah. Selama lebih dari dua milenium, kekuatan asing selalu datang β dari Romawi, Persia, Ottoman, Prancis, hingga Rusia, Iran, AS, dan Turki modern. Mereka semua datang dengan janji: perdamaian, kemajuan, perlindungan. Tapi yang tertinggal hanyalah puing dan luka.
Namun, ada dua titik terang:
- Warga Suriah tidak lagi naif. Mereka pernah melihat Iran “menyelamatkan” mereka dengan milisi asing yang tidak pergi-pergi. Mereka pernah melihat Rusia “membebaskan” mereka dengan bom yang menghancurkan rumah. Mereka pernah melihat AS “mendukung demokrasi” dengan mendanai faksi-faksi yang saling bunuh. Pelajaran: Jangan percaya 100% kepada penyelamat asing.
- Pemerintahan al-Sharaa β apa pun masa lalunya β setidaknya membawa stabilitas. Apakah ia akan menjadi pemersatu? Belum tahu. Tapi seperti kata Kepala Bantuan PBB, Tom Fletcher: “Dunia butuh kisah sukses saat ini.” Dan Suriah punya potensi untuk menjadi kisah sukses itu β jika β jika ia mampu mengelola empat lukanya dengan baik. Baca di China.org.cn
π§ Resep untuk sembuh (menurut perspektif budaya):
- Pemerintahan inklusif β jangan pinggirkan Alawi, Kurdi, Druze, Kristen.
- Kebijakan luar negeri mandiri β jangan jadi boneka Rusia, Iran, AS, atau Turki.
- Rekonsiliasi sejati β akui penderitaan semua pihak, jangan hanya yang menang.
- Rekonstruksi yang memberdayakan rakyat β jangan hanya menguntungkan investor asing.
Akankah al-Sharaa dan timnya mampu? Tidak ada yang tahu. Tapi The Washington Institute mencatat: “Tahun kedua Suriah baru akan menentukan apakah negara ini benar-benar bangkit atau kembali ke perang saudara.”
Kita doakan yang terbaik untuk Suriah. Karena jika Suriah bisa sembuh, itu akan menjadi tamparan keras bagi semua kekuatan besar yang selama ini menganggap Timur Tengah hanya papan catur. Dan jika tidak? Maka luka keempat β perang dingin abadi β akan terus menganga, menunggu korban berikutnya.
Sampai jumpa di episode berikutnya. Semoga Suriah punya akhir yang bahagia. Karena rakyatnya sudah terlalu lama menangis.
Redaksi:
Rubrik Perspektif Budaya β melihat dunia dari sisi yang jarang tersorot. Bukan sekadar berita, tapi cerita. Karena di balik setiap konflik, ada manusia yang hanya ingin pulang ke rumah yang aman.
